Selasa, 08 Mei 2012

CHRISTOPHER DAN PAK IMAM


Pada suatu pagi, Christopher, salah seorang murid saya di kelas lima, datang menghampiri dengan wajah penuh penyesalan. Ia kelupaan membawa tas! Can you imagine that? Berangkat ke sekolah tapi lupa membawa tas beserta isinya: lupa membawa alat tulis, tidak membawa project, tanpa ada buku, termasuk juga lupa membawa botol minum. Murid bondho nekat mungkin ya seperti ini.

Di belahan Indonesia yang lain, fenomena bondho nekat saat bersekolah mungkin masih bisa dipahami. Keterbatasan ekomomi dan infrastruktur membuat sebagian siswa di republik ini terpaksa mengais ilmu pengetahuan dengan modal semangat saja. Berderet-deret tersiar kabar murid-murid Sekolah Dasar dari Papua, Nusa Tenggara Timur dan pedalaman Kalimantan dengan gigih berjuang demi memperoleh pendidikan yang berbudaya. Di Pulau Jawa saja, yang katanya pusat peradaban Indonesia, masih ada peristiwa miris seputar dunia pendidikan. Tentu kita masih ingat kasus para siswa di sebuah kabupaten di Jawa Barat yang nekat menyeberangi sungai ala Indiana Jones demi bisa sampai di sekolah. Tapi kasus Christopher ini masalah lain.

Saya sendiri heran kok kelupaannya bisa keterlaluan seperti ini. Ketika masih bersekolah dulu, beberapa kali memang saya kelupaan membawa perlatan sekolah. Tapi tidak pernah sekalipun saya lupa membawa tas.

Seharian penuh Christopher mengikuti proses belajar tanpa menggunakan buku, pensil, dan semacamnya. Dengan tegas saya melarangnya menggunakan telpon sekolah untuk menghubungi rumah agar bisa dikirimkan tas beserta isinya. Masalah kelupaan membawa “peralatan tempur” ke sekolah bukanlah hal yang pertama bagi anak muda ini. Selalu saja ada barang yang tertinggal. Kadang pensil, buku agenda, homework…..dan kali ini sudah mencapai puncaknya. Tas segedhe Gaban itu kok ya bisa-bisanya ketinggalan. Sebagian dari Anda mungkin ada yang tidak setuju dengan cara pendisiplinan yang saya terapkan. Namun satu hal yang pasti,  saat itu saya sedang berurusan dengan masalah kelupaan yang  sudah akut.

Christopher berasal dari keluarga berada. Ia terbiasa dilayani. Pagi itu, pembantunya sepertinya lupa menyiapkan tas bagi sang pangeran kecil.
“Sebenarnya yang bersekolah itu kamu apa pembantumu, Chris?” tanya saya pada Christopher.
“Tentu saja saya, Pak,” jawabnya sambil tersenyum malu.
“Lha, kok ya bukan kamu sendiri yang menyiapkan tas beserta isinya?” suara saya agak meninggi.
Christopher tetap tersenyum. Kali ini senyumnya agak berasa jenaka. Tidak seperti tadi yang bercampur dengan rasa bersalah. Sungguh saya tidak tega lagi untuk memarahinya. Sepanjang hari itu ia sudah cukup “tersiksa” mengikuti sesi belajar tanpa menggunakan alat bantu apapun.

Bicara tentang pendisiplinan murid, saya mempunyai pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Sewaktu SMP dulu, sekujur kaki saya pernah dipukuli guru matematika di depan kelas dengan menggunakan penggaris kayu gara-gara tidak bisa menyelesaikan sebuah persamaan matematika yang ada di papan tulis. Keringat deras bercucuran membasahi raga ini. Ada rasa gugup, malu, termasuk juga rasa takut. Saya bersyukur tidak ngompol di depan kelas waktu itu. Apakah soalnya selesai? Tidak…! Saya kembali ke bangku diiringi makian sang guru mengapa saya tidak seperti teman saya yang brilliant dari kelas lain yang kebetulan juga bernama Rudy.

Saya benci Pak Imam. Abdul Imam Maulana, demikian nama lengkap guru itu. Saya juga muak dibandingkan dengan siswa lain. Dan parahnya …mulai saat itu saya benci matematika! Tambah tidak masuk akal lagi, saya jadi benci semua nama orang yang ada unsur Imam-nya.

Suatu ketika saya mendengar berita bahwa guru matematika itu mengalami kecelakaan. Beliau diseruduk pick up di halaman sekolah. Meskipun tidak meninggal, tapi beliau mengalami cacat permanen. Oh yeaaah ….Tuhan memang maha adil. Mata ganti mata,  gigi ganti gigi, dan kaki di balas kaki. Rupanya keadilan sedang ditegakkan. Saya jadi punya banyak dasar Alkitab untuk menghakimi. Hehehe …siapa menabur angin ia akan menuai badai. Siapa yang pernah menghajar kaki dengan penggaris, kali ini ia mendapat bemper mobil.

Kok saya jadi kelihatan kejam, ya?
Tapi begitulah kenyataannya. Karena dendam, saya jadi bersukacita atas kemalangan orang lain.

Masalah Christopher segera ditindaklanjuti. Saya berikan beberapa tips praktis agar ia tidak lupa lagi, termasuk di antaranya menempelkan note kecil di cermin sebagai reminder. Saya berharap setiap Christopher bercermin, ia akan selalu diingatkan tentang beberapa hal yang perlu ia bawa atau perlu diselesaikan. Cara tersebut ternyata manjur. Semenjak saat itu Christopher sudah tidak lupa lagi. Tas, alat tulis, buku agenda, beserta dengan project-project semuanya lengkap dibawa setiap hari. Leganya ….satu lagi permasalahan siswa bisa diatasi. Senang rasanya bisa memberikan sumbangsih sederhana bagi kehidupan anak muda ini.

Saya sering tersenyum sendiri bila teringat kisah Christopher. Tuhan memang sering menggunakan cara yang unik, bahkan terkadang misterius untuk mengubah kehidupan anak-anak-Nya. I do really know that …!

Dua tahun lalu saya dapat kesempatan untuk merayakan Natal di kampung halaman saya di Pasuruan. Kesibukan yang super padat di Surabaya membuat saya jarang pulang. Senang rasanya bisa duduk bersama dengan jemaat lokal yang sederhana untuk merayakan kelahiran Tuhan. Bertemu kenalan lama sekalian bernostalgia. Sensasinya menyenangkan sekali.

Gedung Gereja kami yang sederhana dan tidak seberapa besar itu memang mendadak jadi penuh bila ada kebaktian Natal. Hawa dingin Desember sepertinya tinggal angin lalu saja.  Panas sekali di dalam gedung gereja. Tapi satu kenyataan yang pasti. Seluruh jemaat larut dalam sukacita Natal yang disediakan Tuhan bagi umat-Nya.

Ketika acara kebaktian selesai, saya melihat seseorang yang sepertinya  saya kenal. Oh my goodness…., bukankah ia Pak Imam. Sosok yang dulunya  saya kenal sebagai sosok sangar sekarang sudah menjadi renta dengan sebuah tongkat penyangga di sebelah kaki kanannya. Meskipun sorot matanya tetap tajam, namun ia bukan lagi seperti Pak Imam yang dulu. Kini beliau sudah tidak mengenali saya lagi. Namun hal itu tidak menjadi masalah besar buat saya. Dendam di hati ini juga sedah lama sirna terbawa waktu. Yang ada di hati hanya rasa iba melihat beliau dengan susah payah berjalan tertatih-tatih dibantu oleh seorang anaknya meninggalkan gedung gereja. Timotius Abdul Imam Maulana begitu nama beliau sekarang. Sudah semenjak tahun lalu beliau menerima Yesus sebagai Tuhan dan memutuskan untuk berjemaat di gereja ini.

Tuhan bekerja dengan cara yang misterius, bukan?


Selasa, 01 Mei 2012

TERSENYUM MENGHADAPI KEMATIAN

Kematian adalah suatu hal yang pasti. Semua orang dari segala abad pasti mengalaminya. Kebanyakan orang merasa ketakutan menghadapi maut. Sebagian lagi merasa tidak sreg membicarakannya. Saya sendiri merasa kematian adalah sebuah misteri. Meskipun yakin bahwa sesudah kematian terdapat kehidupan kekal, namun saya tetap merasa kurang nyaman bila memikirkannya.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah merasa terpukul saat Papa meninggal dalam tidur di pagi hari. Sebuah serangan jantung mematikan membuat beliau tidak pernah bangun lagi. Cepat, bersih, tanpa merepotkan keluarga. Namun meskipun demikian kematian beliau yang elegan itu tetap membuat saya bersedih. Bila saya rindu beliau, saya masih sering mendengar lagu kesayangan papa: He Ain’t Heavy, He’s My Brother dari The Hollies. Tanpa terasa, air mata sudah membasahi pipi.

Di tengah malam, saya sering terjaga dari tidur. Diam-diam saya melihat dengan seksama wajah istri saya. Begitu damai dan rupawan. Bahkan di saat tidur pun ia masih terlihat cantik. Woow ….saya begitu diberkati Tuhan untuk yang satu ini. Namun sejurus kemudian saya menjadi sadar bahwa di kemudian hari nanti kami akan terpisahkan oleh kematian. Bisa saya yang meninggal duluan atau mungkin juga dia yang dipanggil pulang oleh Bapa terlebih dulu. Pikiran saya suka menerawang bila memikirkannya. Namun kesimpulannya sedehana: tidak nyaman.

Yesus sendiri pernah beberapa kali memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan mengalami kematian tragis di Yerusalem. Respon murid-murid juga senada dengan kebanyakan dari kita. Mereka cenderung tidak menghiraukan atau bahkan menganggap Yesus sedang ngelantur. Dalam sebuah kesempatan, Petrus bahkan pernah dengan tegas menyatakan bahwa Yesus tidak akan mati di Yerusalem. Bila perlu, ia sendiri siap mati demi Yesus. Akhir dari kisah tersebut saya yakin setiap kita sudah mengetahuinya. Yesus mati di kayu salib dan Petrus lari terbirit-birit entah ke mana setelah terlebih dulu menyangkal Yesus.

Saya sendiri membayangkan, Tuhan Semesta Alam dari tahta-Nya menyaksikan adegan demi adegan kelahiran dan kematian anak manusia. Semuanya terekam jelas dari CCTV ilahi. Semuanya harus terjadi dan sangat normal. Maut harus dihadapi, tidak perduli anak manusia itu siap atau tidak. Apakah Tuhan men-design kematian? Saya rasa tidak. Maut muncul akibat dosa manusia dan Yesus datang untuk mencabut kutukan kematian tersebut. Jadi kita seharusnya tidak perlu khawatir lagi akan kematian jasmani. Bila maut datang, sambutlah dengan senyuman karena kita tahu siapa yang tengah menanti dengan tangan penuh kasih di ujung sana.

Saya sadar bahwa cukup sukar menjelaskan kematian di hadapan anak-anak. Perlu pemilihan kata yang tepat untuk bisa mengartikulasikannya dengan elok di hadapan mereka. Biasanya seorang anak akan merasa kebingungan bila ada salah satu dari anggota keluarganya yang meninggal. Ia tidak mengerti mengapa saat itu banyak orang yang bersedih. Bahkan ada pula yang sampai menangis. Jika saat itu hadir menerpa sang anak, segera hampiri dia, tenangkan jiwanya, kecup keningnya, dan sadarilah bahwa sebenarnya ia sama bersedihnya dengan kita. Hanya saja ia tidak tahu bagaimana harus menunjukkannya.

Ketika Zakheus meninggal, Yesus dan murid-muridnya datang melayat. Suasana kesedihan begitu terasa waktu itu dan Alkitab dengan indahnya merekam sebuah mozaik mengesankan dalam sebuah kalimat berikut: “Maka menangislah Yesus” (Yoh. 11:35). Bagi saya ayat super pendek itu  mampu menghadirkan nuansa indah di relung hati bahwa betapa Tuhan dapat sangat mengerti sensasi kesedihan yang muncul akibat kematian. Ia tidak jaim sambil berkata dengan angkuh bahwa di tangan-Nyalah terletak kehidupan dan kematian. Manusia tidak perlu protes. Diam dan nikmati saja. Tidak! Alkitab benar-benar menulis bahwa Yesus pun menangis.

Saya pernah hadir di rumah sakit untuk menjenguk salah seorang mantan murid saya yang tengah berjuang sengit melawan kanker. Ia sudah kehilangan kesadaran semenjak beberapa hari yang lalu. Semua telah dilakukan. Keluarga sudah pasrah, semua pendoa sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dalam tangis tertahan saya hanya bisa berkata lirih, “Tuhan Yesus, seandainya Engkau hadir di sini?”

Tidak ada kesembuhan. Gadis cilik itu meninggal. Agaknya Tuhan sedang mengajar kepada kami tentang arti kehidupan lewat kematian. Hidup itu benar-benar sebuah anugrah dan kematian pun hanya sebuah pintu gerbang menuju kehidupan baru yang mempunyai dimensi kekekalan. Jika Saudara mampu mengerti akan hal ini, tentu Anda akan setuju dengan saya bahwa begitu indah kematian orang-orang yang dikasihiNya.

Jadi tetaplah tersenyum walaupun ajal sudah mengintip di depan pintu.

SAAT GURU NONTON THE RAID


Ya ampun...! Tontonan apa ini. Darah muncrat di mana-mana, isi kepala berhamburan karena ditembak dari jarak dekat, leher tertusuk pecahan neon lampu, dentuman shotgun yang terdengar angkuh, berpadu dengan eksotisme seni bela diri ala anak negeri. Wooow …. Itulah gambaran tentang film The Raid yang beberapa waktu lalu saya tonton. Meskipun miskin ide cerita, namun katanya film ini berhasil menembus box office di negeri Paman Sam sana.
Saya ogah berdebat apakah film ini bagus apa tidak. Rekan saya di kantor dengan bersemangat menyatakan film ini bagus dan spektakuler. Tapi bagi subjektivitas saya, film ini horror banget dan yang pasti film ini bukan untuk konsumsi anak-anak sekolah. Jangankan anak-anak, istri saya saja nyaris muntah di studio XXI saat menyaksikan film ini. 
Sebenarnya pada awalnya saya tidak tertarik menonton film yang disutradarai oleh Gareth Huw Evans ini. Namun harus diakui bahwa saya terpengaruh dengan promosi dahsyat dari pihak pembuat film. Dikatakan bahwa film ini merupakan karya revolusioner orang Indonesia yang mampu meraih pelbagai perhargaan dunia perfilman dari luar negeri. Untuk membuktikannya ...let’s go to the movie. Hasilnya lumayan parah. Jadilah saya dan istri jadi korban marketing globalisasi.
The Raid bukan tontonan anak kecil. Tapi masih ada juga orang tua yang membawa anaknya yang masih kecil nonton film tersebut. Saya sendiri heran, nilai moral apa yang dapat diceritakan sang orang tua pada anak tersebut. Tapi memang begitulah kenyataannya. Banyak orang tua dan guru yang tidak terlalu ambil pusing tentang film yang ditonton oleh para buah hatinya. Yang penting sang anak senang, habis perkara.
Dr. Andar Ismail dalam bukunya Selamat Hidup Rukun (1982) menjelaskan bahwa pada zaman Perjanjian Lama, orang Yahudi beranggapan bahwa manusia baru bisa dididik saat berusia empat tahun. Menurut mereka anak usia setahun belum bisa belajar apa-apa karena ia ibarat raja kecil yang pekerjaannya hanya tidur sepanjang hari. Demikian juga anak berumur dua atau tiga tahun. Menurut orang Yahudi, ia laksana babi jorok yang tangannya ingin memegang segala sesuatu, lalu menjilat apa saja yang bisa dipegangnya.
Oleh sebab itu, menurut orang Yahudi, pendidikan baru bisa dimulai pada usia empat tahun saat seorang anak sudah mulai bisa berbicara dengan baik. Credo pertama yang biasa diajarkan oleh orang tua Yahudi adalah pernyataan yang berbunyi, “Dengarlah hai orang Israel. Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6: 4 – 5).
Begitu disiplinnya orang Yahudi mendidik anak-anak mereka, serasa berbanding terbalik dengan cara kita mendidik anak. Saat ini anak-anak dengan sangat mudahnya dapat bercumbu dengan pelbagai tayangan yang minim nilai edukasinya. Kemajuan teknologi agaknya telah mampu membawa mereka berlari lebih cepat dari orang tua dan para gurunya. Mereka dengan mudah mengakses informasi via internet, menikmati manga Jepang, menonton film melalui rupa-rupa media, dan melakukan proses imitasi dan dan duplikasi terhadap nilai-nilai baru yang mereka anggap baik.
The Raid memang salah satu contoh film Indonesia yang mampu berbicara lantang di luar sana. Namun saya merasa orang tua perlu berhati-hati dalam membawa anak-anaknya menyaksikan film-film dengan genre seperti ini. Memang harus diakui bahwa republik ini miskin tayangan hiburan yang berkualitas. Tidak banyak teladan dan contoh yang dapat menjadi model strategis bagi anak-anak. Tapi tentu saja kita sebagai orang tua tidak boleh menyerah begitu saja, bukan?
Kita harus berani repot dalam mengurusi anak-anak. Bila selama ini sudah merasa repot, maka kita harus berkomitmen untuk lebih repot lagi dalam memperhatikan anak-anak. Memang akan sangat menguras uang, energi, dan waktu. Namun demi anak-anak, semuanya tentu akan kita lakukan.
Guru pun seyogyanya tidak boleh anti nonton film. Tontonlah banyak film agar kita bisa menjadikannya batu loncatan untuk membangun komunikasi dengan para siswa. The Avenger, Transformer, Amazing Spiderman, blah blah blah ……Nikmati juga SMA*SH, Suju, Cherrybelle, Detective Conan, Doraemon, Naruto sampai Shinchan sekalipun. Saya mengerti sekali bahwa sebagian kita akan terasa kurang nyaman saat menikmati menu yang barusan saya tawarkan. Tapin sadarilah, kita yang harus masuk ke dunia anak-anak/remaja karena mereka tidak akan bisa mengerti betapa jadul-nya dunia kita.
Mau, kan?

Minggu, 29 April 2012

LIFE BEGINS AT FORTY


Pada tahun 1930-an, Walter Pitkin menulis sebuah buku best seller berjudul Life Begins at Forty. Buku tersebut mendapat sambutan positif masyarakat Amerika Serikat karena membuka cara pandang mereka tentang kehidupan. Hidup seseorang tidak berhenti pada usia 40 tapi sejatinya baru saja dimulai. Kehidupan mulai mapan, sudah punya anak, rumah ada, dan koneksi mulai terbentuk secara massive. Pendek kata, rona keberhasilan mulai membuncah ke permukaan.

Bagi banyak orang, sang guru pun kebanyakan mulai terlihat berwibawa dan berkharisma pada usia 40 –an. Segala perkataannya mulai terasa berdentum kencang di sanubari pendengarnya bila dibandingkan dengan ceramah seorang guru muda yang baru lulus kuliah pendidikan. Meskipun esensinya nisbi, namun orang lebih suka mendengar bunga-bunga teori kalimat berwibawa dari seorang guru yang berpengalaman ketimbang pengajaran penuh inovasi dari seorang guru belia.

Guru muda sering mendapat perlakuan minor. Bukan karena kemampuannya mengajar tapi pada usia yang melekat padanya. Dahulu saya bahkan sempat dipanggil Mas Guru oleh seorang wali murid saat program tatap muka antara orang tua dan guru berlangsung. Sungguh ...! Masukan yang diberikan oleh wali murid tersebut memang mengandung kebenaran, namun saya geli juga saat beliau memanggil saya dengan sebutan seperti itu.

Dua millennium yang lalu, ada seorang guru berusia 30 tahunan yang mencoba meniti karir di tengah masyarakat Yahudi. Namanya adalah Yesus. Pengajarannya  sederhana namun mendobrak kemunafikan. Perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan sangat kreatif, inovatif, dan penuh solusi. Ia dupuja massa melebihi seorang idol dari sebuah ajang pencarian bakat, namun dicela banyak orang. Bukan karena Ia cacat moral tapi karena Ia masih berusia muda. “Siapakah Dia ini? Ngomongnya fals banget. Bukankah Ia ini anak seorang tukang kayu?” begitu pikir para pengajar Yahudi yang pro status quo pada waktu itu.

Kita hidup di tengah masyarakat yang mirip dengan masyarakat di mana Yesus pernah tinggal berdiam. Sebuah masyarakat yang masih menganggap senioritas lebih penting dari dari sebuah kretivitas. Bila hal ini tidak segera dibenahi, maka guru-guru muda akan tetap terkungkung dalam nuansa keminderan tak bertepi sambil menanti kharisma dan kewibawaan akan datang menghampiri saat usia mulai bertambah. Akahkah seperti itu? Jika hal itu benar, betapa malangnya Indonesia.

Sejatinya bangsa ini memerlukan guru-guru yang berani berkata benar. Guru-guru yang tidak tinggal diam saat contekan massal Ujian Nasional menggelora. Guru-guru yang tidak rela menukar idealisme kebenaran di bawah ketiak kepentingan sesaat.

Saya pikir bukanlah sebuah kebetulan bahwa Yesus mengambil rupa seorang muda saat berkarya di muka bumi ini. Orang muda itu sumbernya kreativitas dan energi. Jadi sangatlah mengherankan bila kita harus menunggu sampai berusia 40 tahun baru kemudian bisa mengatakan bahwa kehidupan baru saja dimulai. Kehidupan adalah saat ini.

Orang bijak pernah mengatakan bahwa masa lalu adalah sejarah dan masa depan adalah sebuah misteri, namun hari ini adalah sebuah anugrah. Bila kita sebagai guru sadar bahwa hari ini adalah anugrah yang Tuhan berikan buat kita untuk berkarya mewarnai dunia, mengapakah kita masih mengajar dengan asal-asalan?

Rabu, 07 Maret 2012

Tulisan Pandji Pragiwaksono tentang FPI

Saya akui, penilaian saya terhadap FPI sedikit berubah.
Obrolan saya di Provocative Proactive Radio dgn Mamot (bukan nama aslinya) seorang mantan anggota FPI, Pak Tamrin Tomagola seorang sosiolog dan Ketua FPI DPD Jakarta Habib Selon sangat menambah wawasan saya akan FPI
Awalnya, alasan mengangkat FPI ke PP radio adalah karena isu penolakan FPI di Kalimantan. Penolakan yg memicu penolakan-penolakan lain di sejumlah kota di Indonesia

Wacana pembubaran FPI muncul, banyak dukungan dalam bentuk tagar (tanda pagar) #IndonesiaTanpaFPI muncul di twitter. Ratusan orang aksi damai di jalananan menunjukkan penolakannya
Kalau anda bertanya kepada saya, saya pribadi akan jawab tidak setuju terhadap pembubaran FPI.
Mengapa?
3 alasan:
1) Karena pembubaran FPI hanya akan membuat mereka muncul kembali dgn nama yg baru
2) Karena negara membebaskan siapapun untuk berkumpul dan berserikat. Menghalangi itu, hanya akan berdampak buruk kpd diri kita sendiri
3) Kalau FPI melakukan kegiatan2 yg melanggar hukum, ya pelakunya yg ditindak. Sama aja seperti misalnya POLRI ada yg melanggar hukum, ya pelakunya yg ditindak. Bukan POLRInya yg dibubarkan
Dengan semangat “Mencoba memahami sebelum membenci” maka saya mengundang sejumlah orang utk dialog
Munarman, jubir dan pengacara utk FPI yg sudah confirm akan datang tiba tiba membatalkan sepihak
Tapi gantinya adalah Habib Selon tadi, ketua DPD FPI Jakarta

Kepada beliau, saya bertanya persis seperti ini “Habib, selain mukul2 pake bambu kegiatan rutin FPI itu ngapain aja?”

Habib menjawab “Ah tidak pernah itu mukul2 pake bambu. Kami di FPI rutin pengajian, membantu masyarakat, dll”
Habib lalu cerita tentang peran FPI jadi tameng bagi masyarakat thd hal hal yg menyimpang dari ajaran agama.
Menurut Habib, dibalik setiap “penyerangan” selalu ada pelaporan kpd kepolisian berkaitan dgn tempat2 “melenceng” tersebut. Kepada RT setempat. Dan FPI memberikan peringatan 3 kali kpd tempat tersebut
Apabila Polisi tidak maju dan tidak ada perubahan, maka FPI akan ambil tindakan.
Kata Habib, setiap terjadi kekerasan adalah karena tempat yg didatangi biasanya melawan balik dgn preman preman bayaran tempat tersebut.
Murni self defense menurut pengakuan Habib.
Saya lalu bertanya “Kenapa Alexis nggak pernah diserbu, Bib?”

Kata Habib Selon “Alexis itu Hotel. Kami tidak pernah menggerebek hotel karena di hotel Alexis ada keluarga yg menginap bersama anak anak..”
…..

Saya langsung bertanya balik “Habib. Mana ada keluarga nginep di Alexis? Kecuali ada yg berkeluarga dgn orang Uzbek”

FPI sendiri dilahirkan oleh para Jenderal. Ini bukan isapan jempol. Surat kesepakatan antar Jenderal tersebut dipegang almarhum Munir. Selain ada Nugraha Djayoesman selaku Kapolda saat itu dan di dalamnya ada tanda tangan Wiranto.
Itu loooh, Wiranto “Takkan Khianat Hidup Mati Bersama Rakyat”
Hehehe .....
Para Jendral mendirikan itu karena mereka butuh sesuatu utk menekan lapisan masyarakat yg “melawan”
Karena aparat vs rakyat = kejahatan HAM
Sementara ormas vs rakyat = kerusuhan biasa
Indonesia sudah diawasi dunia urusan kejahatan HAM.
Maka diciptakanlah FPI.

Ketika saya tanya ini kepada Habib Selon, beliau menjawab “Jenderal -jendral itu adalah pendukung Islam. Boleh boleh saja mereka mendukung Islam. Semua orang Islam pasti mendukung FPI”
Saya memotong dan berkata “Tidak semua lho Bib. Saya aja tidak mendukung FPI..”
Dia menyahut “Mereka yang ga stuju FPI, bukan org Islam!”

I got that on air. On tape.
Kepala DPD FPI Jakarta berkata “Tidak mendukung FPI berarti bukan orang Islam”
Habib baru saja mencoreng wajah FPI dgn ucapannya sendiri
Apalagi, tidak lama setelah itu Habib Selon berkata “Lihat tuh Gus Dur si Buta Dari Goa Hantu. Pengen bubarin FPI malah dirinya sendiri yang bubar!”
Saya kaget.
Terhenyak.
Orang yang menurut Mamot (mantan anggota FPI yang juga saya wawancara) setiap rabu kalau pengajian selalu lucu dan jenaka, baru saja menghina mantan Presiden Republik Indonesia
Yang tidak bisa melihat dengan matanya, tapi hatinya melihat lebih dalam daripada sekedar kulit di permukaan

Bagaimana bisa, orang orang seperti ini kita biarkan?
Pertanyaan lebih besar lagi, siapa yang membiarkan mereka mereka ini?
Para Jenderal yang pada awalnya mendirikan mereka, kini sudah tidak bisa menguasai FPI lagi
FPI seperti anak macan piaraan Jendral yang kini sudah jadi besar dan tidak bisa diatur lagi
Dipuncak, adalah Habib Rizieq yang mengatur ini dan itu.
Markas FPI adalah rumahnya Habib yang besarnya keterlaluan.

Dari mana uang FPI? Dari orderan banyak sekali pihak.
Adik saya kerja di event organizer, dia mengaku pernah mau digerebek FPI lalu FPInya dikasi uang. Niat FPI menggerebek langsung hilang. Ngga jadi.
Bisa dibayangkan, “orderan” kepada FPI sangat banyak tergantung kebutuhan
Pengalih isu? Persaingan bisnis? Persaingan Politik? Perusakan citra?
Asal ada fulus, ada akal bulus
Pertanyaannya kemudian, dikemanakan saja uang tersebut?
Disinilah bagian TERPENTING dari tulisan saya.
Uang uang yang masuk ke FPI, sebagian diberikan kepada rakyat Indonesia yg membutuhkan uang.
Saya akan ceritakan, bagaimana dan mngapa FPI bisa subur.
Kalau anda nonton film Fast 5 (Vin Diesel, Dwayne “The Rock” Johnson, dll) ada tokoh antagonis. Seorang pengusaha jahat yg menguasai Brazil.
Di salah satu adegan, tokoh jahat ini berkata “Saya tidak suka dengan cara anda berbisnis. Anda bisnis dengan kekerasan. Kalau rakyat anda serang dengan kekerasan kelak mereka akan melawan balik. Karena mereka terdesak. Saya, memilih untuk memberikan mereka uang. Saya beri mereka “kemewahan” yang tidak bisa mereka dapatkan sebelumnya. Dan bisa mereka dapatkan kini lewat saya. Uang, pendidikan, kesehatan. Saya beri kepada mereka. Kini, saya MEMILIKI mereka. Mereka ingin terus merasakan hal hal yang saya berikan. Maka mereka jadi setia kepada saya”
Inilah prinsip yg FPI lakukan
Di Indonesia, masih sangat banyak rakyat rakyat yang membutuhkan bantuan
Pemerintah lalai dalam membantu mereka, masyarakat kelas menengah dgn starbucks di tangan kanan dan iphone di tangan kiri tidak peduli kepada masyarakat sekitar
Akhirnya, kekosongan ini diisi oleh FPI
Rakyat ada yg butuh uang Rp50.000? FPI berikan kpd rakyat
Ada yg susah masuk sekolah karena tidak punya dana? FPI buatkan surat sakti agar dimudahkan
Tidak punya biaya berobat? FPI buatkan surat agar diringankan biayanya.
Semua ini, dibenarkan Mamot dan diakui oleh Pak Thamrin.
Mamot bilang, banyak orang tua senang menitipan anak anaknya ke FPI. Daripada anak anak tersebut nongkrong ga jelas di gang gang dan menggunakan obat obatan terlarang..
Ketika pengajian, para Habib sangat sangat simpatik. Bahkan Mamot bilang, Habib Rizieq sangat hebat dalam berorasi. Mengingatkan Mamot akan kehebatan Sukarno.
Apalagi menurut Pak Thamrin, gaya hidup para Kyai dan Habib yang membuka pintunya utk siapapun memberikan akses kpd masyarakat yang butuh bantuan.
Sementara para kelas menengah (termasuk saya) seringkali curiga ketika ada orang tidak dikenal ketok ketok pagar rumah kita..
Pak Thamrin juga bilang, ini salah ormas ormas seperti Muhammadiyah dan NU yang lebih dekat ke elit politis daripada ke rakyat
Bahkan satu waktu, Habib ditelfon dan diberi kabar bahwa pintu air (entah yg mana) akan dibuka dan banjir akan datang. Habib langsung keluar dan perintahkan masyarakat sekitarnya utk bersiap dan mengungsi. Ketika banjir datang, Habib langsung dipandang sebagai orang “sakti” yg dapat wejangan dari Yang Maha Kuasa.
Kekosongan yang terjadi, dimanfaatkan oleh FPI dgn sangat baik
Di satu sisi apa yang mereka lakukan adalah baik.
Di sisi lain, mereka memanfaatkan rakyat yg mereka beli untuk jadi basis massa yang kelak mereka manfaatkan untuk kepentingan kepentingan pribadi
Ketidak pedulian kelas menengah kepada sekitarnya, telah berbalik dalam wujud yang lebih membuat resah.
Membubarkan FPI, bukanlah solusi.
Solusi yang benar, adalah dengan mulai peduli kepada sesama rakyat Indonesia yg membutuhkan
Isi kekosongan yg dimanfaatkan FPI
Jangan lemahkan mereka dgn sekedar memberi uang seperti yg FPI lakukan
Perkuat mereka. Empower.
Beri pendidikan karena itulah sayap yang akan membawa mereka terbang
Susah? Ya memang!
Justru yang benar itu seringkali susah
Cara yg gampang biasanya solusi gampangan
Walaupun susah, tapi pasti bisa
Secara makro, ekonomi kita luar biasa.
Fakta bahwa kelas menengah kita melebar adalah benar. Tapi berapa banyak di antara kita yg membagi segala kelebihan kelebihan yg kita punya?
Kapan kita pernah berbagi uang? Waktu? ILMU?
Teruslah membohongi diri sendiri anda sibuk, anda tidak punya waktu, anda sendiri masih susah.
Kalau anda mau dan anda niat. PASTI ada jalan.
Dibawah anda, ada masyarakat pra-sejahtera terus merana dan sengsara dan itu salah bangsa Indonesia. Rakyatnya DAN pemerintahnya
Anda memilih utk tidak peduli? Silakan, tapi anda tidak pantas lagi ngomel ngomel tentang FPI

Taken from http://clubbing.kapanlagi.com/threads/120502-Tulisan-pandji-Pragiwaksono-tentang-FPI

Kamis, 01 Maret 2012

TIDAK MENYERAH SAMPAI AKHIR


Ketegangan tampak terpancar dari raut wajah Mr. Rendra dan Mr. Rudy saat menyaksikan penalty shootout antara SDKr. MDC melawan SDK St. Theresia II. Berkali-kali Mr. Rudy mengusap peluh di wajahnya sementara Mr. Rendra tetap diam seribu bahasa melihat 3 orang penendang terbaiknya bersiap mengeksekusi adu tendangan penalti. Adu penalti memang selalu tanpa belas kasihan. Selalu ada pihak yang sangat terluka akibat kekalahan.

Turnamen Futsal Santa Maria Cup V sudah memasuki babak final. Performa tim MDC sangatlah impresif di babak penyisihan. Setelah berturut-turut menghempaskan SDK Untung Suropati Sidoarjo dan SDK St. Mikael, pada babak semifinal mereka kembali meraih hasil memuaskan setelah menundukkan SDK Melania dengan skor meyakinkan 8 – 3.

Pada babak final, anak-anak MDC harus berhadapan dengan tim kuat dari kawasan Surabaya Timur, SDK Theresia II. Sepanjang waktu normal, pertandingan berlangsung dengan seru dan menegangkan. Walaupun sempat tertinggal 1 – 3 sampai pada 5 menit akhir, anak-anak tetap tidak menyerah sampai mereka berhasil menyamakan kedudukan. Pertandingan pun terpaksa diselesaikan melalui babak penalty shootout.

Sebagai kapten tim, Kristoforus Gary Prayogo jelas memikul beban yg berat. Namun ia tetap memberanikan diri mengambil tanggung jawab sebagai penendang pertama. Ia sempat menghela napas sejenak. Konsentrasi penuh berpacu dengan gemuruh penonton yang memadati Santa Maria Sport Hall. Ia mengambil ancang-ancang …..dan ………..!!

Tendangan keras mendatar ke sudut kiri gawang ternyata berhasil diblok oleh penjaga gawang lawan. Penyesalan mendalam jelas terpancar dari wajahnya. Bayang-bayang kekalahan segera menyeruak di dada seluruh tim MDC. Kedua ekskutor penalti MDC selanjutnya berhasil melesakkan bola ke gawang lawan, namun hal tersebut tidak cukup membawa kemenangan. Seluruh penendang lawan ternyata berhasil melakukan tugasnya tanpa kesalahan. St. Theresia II berhasil menjadi juara 1 Santa Maria Cup II.

Kekalahan di babak final tetaplah sebuah kekalahan. Runner Up menjadi predikat Tim Futsal MDC. Meskipun terasa sangat menyakitkan, namun perjuangan anak-anak sudah melebihi ekspektasi kita semua. Tarima kasih, Sobat. Kalian sudah membuat kami bangga. Proud of You, Guys. 

Babak
Lawan
Skor
Pencetak Gol
Round 1
SDK Untung Suropati Sidoarjo
4 - 1
K. Gary Prayogo (2)
Timothy Jason
Kevin Ezra
Round 2
SDK St. Mikael
2 – 1
K. Gary Prayogo
Timothy Jason
Semifinal
SDK Melania
8 – 3
K. Gary Prayogo (5)
Alan S. Wonodihardjo (2)
John Patrick
Final
SDK Theresia II
5 – 6
K. Gary Prayogo (2)
Timothy Jason (2)
John Patrick

Senin, 13 Februari 2012

BERUBAH …? SIAPA TAKUT?

Suka atau tidak, hidup itu memang perlu perubahan. Tidak selalu menyenangkan memang, tapi untuk menuju kemajuan, kita mutlak perlu berubah. Tanpa perubahan, kehidupan menjadi statis dan kurang berwarna. Biasanya sih yang sering bersuara minor terhadap perubahan adalah pihak yang terbiasa akrab dengan status quo. Mereka enggan berubah karena sudah terlanjur nyaman dalam zona aman. Padahal bagi saya aneh sekali kehidupan zonder perubahan. Alih-alih kehidupan, wong saban hari saja menu makan dan pilihan busana juga perlu berubah.

Ongkos perubahan tidaklah murah. Efek yang ditimbulkannya pun sering membuat banyak orang mengelus dada karena perubahan selalu bersinggungan dengan pola kebiasaan lama. Keduanya tidak bisa berjalan beriringan, melainkan selalu berusaha meniadakan satu dengan yang lain. Seseorang tidak bisa mengatakan dirinya telah berubah apabila masih setia melakukan kebiasaan yang lama. Itulah sebabnya banyak orang merasa bahwa perubahan adalah sebuah ancaman karena ada kemungkinan segala hal bisa berubah lebih buruk. Tapi bagi mereka yang berani dan percaya diri, perubahan adalah momen menyenangkan dan inspiratif karena terdapat kesempatan untuk membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.

Pola pikir seorang pengajar juga hendaknya tidak alergi terhadap perubahan. Sebenarnya kita ini (baca: para orang tua dan guru) adalah produk lama hasil pola pendidikan masa lalu. Namun hebatnya, kita memberanikan diri untuk tampil sebagai pendidik para insan pengubah masa depan. Memang kita tidak punya pilihan. Anak-anak perlu figur yang dapat digugu lan ditiru, figur yang didengarkan  dan dapat dijadikan suri teladan. Namur kita sering lupa bahwa ada semacam mata rantai yang terputus antara kita dengan anak-anak. Sesuatu yang sering membuat kita nggak nyambung dengan mereka. Dan hal itu tidak aneh. Kenapa? Karena kita memang sisa stock lama sedangkan mereka adalah new brand yang dipenuhi dengan pelbagai gairah baru yang mungkin sulit untuk kita pahami. Mata rantai yang terputus itu akan tersambung bila kita mau berubah.

Perubahan itu membutuhkan kerendahan hati. Penyakit utama para guru adalah merasa sudah mengetahui banyak hal. Sabda yang keluar dari mulut guru bagaikan harga mati yang tidak dapat ditawar lagi. Selalu benar dan nisbi kesalahan. Padahal dari para muridlah para guru dapat belajar lebih banyak lagi. Berhadapan dengan seorang murid memungkinkan sang guru untuk bisa belajar untuk menjadi pembelajar yang baik. Sang guru tidaklah lebih pintar dari sang murid. Guru hanya tahu lebih dulu.

Murid bukanlah flashdisc kosong yang siap kita isi dengan rupa-rupa pengetahuan. Salah besar bila mengibaratkan anak bak kertas putih yang kosong yang siap untuk ditulis dengan pelbagai macam tulisan. Murid bukanlah robot melainkan insan mulia ciptaan Sang Maha Kudus yang sudah memuat beberapa info mentah dan potensi hulu ledak yang kekuatanya mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya. Menjadi tugas kita sebagai guru untuk dapat memaksimalkan potensi itu agar dapat bercahaya demi kemuliaan-Nya. Apabila untuk merealisasikannya dibutuhkan perubahan di pihak kita, akankah kita sebagai guru masih keberatan?

Progress is impossible without change, and those cannot change their minds cannot change everything. (George Bernard Shaw)