Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Oktober 2014

The First Strike

Belum genap satu semester berjalannya Tahun Ajaran 2014 – 2015, Tim Futsal SDKr. Masa Depan Cerah berhasil menorehkan prestasi membanggakan di ajang Turnamen Futsal Vita Cup 2014. Dalam turnamen yang diikuti oleh berbagai Sekolah Dasar Negeri dan Swasta di Surabaya tersebut, tim futsal sekolah kita mampu mencatatkan dirinya sebagai Juara II.

Sebenarnya Tim Futsal sekolah kita tidaklah dibebani target untuk menjadi juara dalam turnamen tersebut mengingat tim ini masih dalam proses transisi dari tim futsal tahun lalu. Namun karena tampil tanpa beban, tim ini malah mampu tampil impressive sepanjang turnamen. Setelah mengandaskan perlawanan SDN Gading B di babak awal, Kenneth Simbolon dkk berhasil meraih kemenangan fenomenal di babak semifinal atas Tim Futsal MSCS dengan skor mencolok 11 – 1.
                       
Pada babak final, tim futsal kita harus berhadapan dengan juara bertahan tahun lalu yaitu Tim Futsal Gading A. Kualitas determinasi mejadi faktor pembeda di antara dua tim yang berlaga di babak final itu. Setelah melakukan perlawanan hebat, Tim Futsal MDC harus mengakui ketangguhan tim lawan dengan skor 2 – 6.

Walaupun belum berhasil menjadi Juara I, tim futsal sekolah kita sudah menunjukkan militansi bertanding yang luar biasa. Tim ini memiliki potensi untuk terus berkembang dan meraih prestasi yang lebih baik pada turnamen-turnamen berikutnya. Keep moving forward, Guys ...!!

Tim Futsal SD Masa Depan Cerah
Ebenhaezer, Nicholas Zhang, Mitch Salindeho, Kenneth Ansell Simbolon (Captain), Kenneth Wilbert, Timothy Christian Sayogo, Patrick Shane, Jose Rafael Wijaya

Coach                          : Rendra Permadi
Coach Assistant         : Januar Ekvan Kristiono
Team Manager           : Rudy Irawan

No
Pertandingan

Skor
Pencetak gol
1
SDKr. MDC vs SDN Gading B
(Round 1)
5 – 1
Kenneth Ansell Simbolon (4)
Mitch Salindeho

2
SDKr. MDC vs MSCS
11 - 1
Kenneth Ansel Simbolon (5)
Kenneth Wilbert (4)
Nicholas Zhang
Jose Rafael Wijaya

3
SDKr. MDC vs SDN Gading A
2 – 6
Kenneth Ansell Simbolon
Kenneth Wilbert






Sabtu, 18 Januari 2014

HOREE ...JUARA LAGI!

Tim Futsal SD MDC berhasil menorehkan prestasi apik dalam Turnamen Futsal Elyon Cup yang diselenggarakan pada tanggal 13 – 15 Januari 2014. Dalam turnamen yang berlangsung di Surabaya Futsal Center tersebut, Tim Futsal SD MDC berhasil meraih predikat runner up.

Di babak awal, Tim Futsal SD MDC berhasil mencatat kemenangan telak 7 – 0 atas Tim Futsal SD Xin Zhong. Penampilan impresif tersebut berlanjut di babak berikutnya dengan mengandaskan perlawanan Tim Futsal SD Elyon Rungkut dengan skor mentereng 5 – 1.

Pada babak semifinal, Tim Futsal SD MDC harus berhadapan dengan tim futsal tuan rumah, SD Elyon. Setelah bermain imbang 0 – 0 pada waktu normal, para pemain MDC menunjukkan kematangan mentalnya dalam babak adu penalti. Tim Futsal MDC berhasil lolos dari lubang jarum dengan skor kemenangan 3 – 2.

Pada babak final, MDC sudah ditunggu oleh tim futsal dari SD YPPI. Hasrat untuk mempertahankan gelar juara yang diraih tahun lalu membuat para pemain MDC bermain sangat bersemangat. Gol pun kemudian tercipta bagi tim MDC. Namun kemenangan yang sudah di depan mata itu mendadak sirna setelah YPPI berhasil membalikkan keadaan dengan dua gol balasan. Kedudukan 2 – 1 bagi Tim Futsal SD YPPI bertahan sampai pertandingan selesai.

Tim Futsal MDC memang gagal mempertahankan gelar juara yang berhasil diraih setahun sebelumnya. Namun berhasil memasuki babak final selama dua tahun berturut-turut tetaplah sebuah keberhasilan yang layak untuk mendapatkan apresiasi. Prestasi ini kiranya dapat menjadi momentum yang tepat dalam pembentukan dan pembinaan bibit-bibit baru pemain futsal yang handal di sekolah kita.

No
Pertandingan
Skor
Pencetak gol
Keterangan
1
MDC vs Xin Zhong
7 - 0
Darren Maxwell (3)
Alexander Imanuel Iman (2)
Rodderyo Soetarso
William Arthur Mantofa
Round 1
2
MDC vs Elyon Rungkut
5 - 1
Darren Maxwell (2)
Alexander Imanuel Iman
Kenneth Ansell Simbolon
Mitch O.S.E. Salindeho
Round 2
3
MDC vs Elyon
3 – 2
Darren Maxwell (2)
Rodderyo Soetarso
Semifinal
4
MDC vs YPPI
1 – 2
Kenneth Ansell Simbolon


Tim Futsal SD MDC

Kevin Halim (GK), Kimmy Raifonzo Lumintang, Kenneth Ansell Simbolon, Darren Maxwell (c), Rodderyo Soetarso, Alexander Imanuel Iman, William Arthur Mantofa, Mitch O.S.E. Salindeho 

Coach                          : Rendra Permadi, S.Pd.
Coach Assistant           : Januar Ekvan Kristiyono, S.Pd.
Team Manager             : Rudy Irawan, S.S.

Senin, 30 Desember 2013

MENANTI BOMBER

Pada tahun 1980-an, Timnas Indonesia pernah memiliki striker yang sangat berbahaya bernama Ricky Yakob. Gaya mainnya lugas dan berani. Tampangnya pun keren. Melalui layar TVRI dulu, saya menyaksikan aksinya saat menjungkalkan Brunei Darussalam di ajang SEA Games yang berlangsung di Jakarta pada tahun 1987. Walau sempat macet saat bertemu dengan Thailand, dentuman gol Ricky Yakob kembali membahana saat menumbangkan Burma (sekarang Myanmar) di babak semifinal. Kita bersua Malaysia di babak final. Kali ini kembali tidak ada gol dari Ricky Yakob, namun Indonesia berhasil meraih medali emas melalui lesakan gol semata wayang Ribut Waidi. Indonesia menjadi juara dan nama Ricky Yakob dipuja.

Setelah itu sempat muncul nama Peri Sandria. Namun karirnya tidaklah melegenda di level timnas.  Orang lebih mengenal Widodo C. Putra sebagai striker tajam yang pernah dimiliki Indonesia. Dia juga merupakan salah satu anggota Timnas saat merebut medali emas kedua dalam sejarah persepakbolaan Indonesia pada ajang Sea Games Manila di tahun 1991. Aksi gol saltonya ke gawang Kuwait pada Piala Asia 1996 juga terasa abadi. Duetnya bersama Roni Wabia di ajang itu berhasil menarik perhatian sejumlah kalangan.

Saat kejayaan Widodo belum sirna, muncul nama Kurniawan Dwi Yulianto. Meskipun berperawakan kurus, namun Kurniawan sangat cepat, bertenaga, dan bertalenta. Ia pernah tampil bersama Sampdoria Italia sebelum akhirnya dikontrak FC Luzern Swiss. Berduet dengan Widodo C. Putra, Kurniawan mampu membawa Timnas Indonesia tampil gemilang di Sea Games 1997 sebelum dihentikan Thailand di babak final. Sayang, kehidupan Si Kurus sarat kontroversi. Ia sempat mencoba bangkit bersama tim Persebaya di ajang Liga Indonesia. Namun performa Kurniawan sudah tidak sama lagi seperti dulu.

Sempat muncul nama Ilham Jaya Kesuma di lini depan Timnas kita. Namun saya pikir, nama Bambang Pamungkas lebih layak untuk dikedepankan. Bambang adalah sosok pemain yang cerdas, punya kemampuan berkomunikasi yang baik, profesional, dan yang lebih penting lagi, ia adalah seorang pemimpin di dalam dan di luar lapangan. Meskipun selama karirnya, Bambang Pamungkas tidak pernah memberikan satu pun gelar bagi Indonesia, kiprahnya akan selalu diingat sebagai pencetak gol terbanyak bagi Timnas Indonesia sampai hari ini. Meskipun demikian, saya berharap rekor Si Raja Udara itu akan pecah pada suatu hari nanti.

Walaupun kemudian muncul nama Christian Gonzales yang tampil fenomenal di ajang AFF Cup 2010, bagi saya Bambang Pamungkas adalah striker murni terakhir yang dimiliki Timnas yang genuine Indonesia. Setelah era Bambang usai, Indonesia kesulitan untuk mencari seorang finisher di lini depan. Memang terdapat nama-nama mentereng seperti Boaz Salossa, Samsul Arief, Greg Nwokolo atau bahkan Andik Vermansyah. Namun semuanya bertipe second striker/winger dan bukan bomber oportunis.

Lihatlah kiprah Timnas senior kita! Paceklik gol, bukan? Hanya 2 biji gol Boaz Salossa yang berhasil tercipta selama perhelatan Pra Piala Asia. Untuk level U23, kelemahan mencolok yang tidak dapat disangkal saat berlaga di Sea Games Myanmar yang lalu adalah mandulnya lini depan. Walau berhasil lolos ke babak final, total cuma 4 gol yang tercipta selama 6 pertandingan. Di tingkat U19, kita memang menemukan sosok striker Muchlis Hadi. Namun perlu diingat bahwa moncernya Tim Garuda Muda lebih ditentukan dengan dahsyatnya performa  Evan Dimas yang memainkan peran sebagai midfielder.

Apa yang menyebabkan Timnas kita kesulitan menemukan bomber handal?

Sebenarnya Indonesia tidak pernah kehabisan stock striker murni. Namun sayangnya sebagian besar dari mereka kurang mendapatkan porsi untuk bermain secara reguler di klub mereka masing-masing. Bukan rahasia lagi bahwa klub-klub Indonesia lebih suka mempergunakan jasa para striker impor ketimbang striker lokal. Di satu sisi, kebijakan ini berhasil meningkatkan performa tim secara keseluruhan. Para penonton  antusias memenuhi stadion karena penampilan para pemain asing seakan menjadi jaminan untuk mendapatkan tontonan sepak bola yang bermutu. Namun di sisi yang lain, membanjirnya jumlah para pemain asing yang berlaga di liga domestik membuat potensi pemain lokal, khususnya striker,  tidak dapat terasah dengan baik.

PSSI sebagai induk olahrga sepakbola di tanah air seharusnya mengambil langkah tegas dengan membatasi jumlah pemain asing yang turun di Liga Super Indonesia. Di samping itu, sudah waktunya bagi PSSI untuk memperhatikan pembinaan pemain usia muda secara komprehensif di seluruh wikayah Indonesia. Terdengar klise memang. Tapi untuk sesuatu yang klise ini pun PSSI belumlah mampu melakukannya dengan baik. Organisasi yang dipimpin oleh Johar Arifin itu masih hanya sibuk mengurusi Liga Super Indonesia dengan pelbagai dinamika yang melulu hanya itu-itu saja.

Di samping itu, Timnas sepakbola kita juga sejatinya tidak membutuhkan bomber naturalisasi. Naturalisasi hanya sekedar cari sensasi dan mencederai hati anak negeri. Lagi pula dari sejumlah nama yang berhasil dinaturalisasi, hanya beberapa nama yang terbukti mumpuni. Sisanya hanya modal gaya tanpa arti. Naturalisasi merupakan potret kemalasan pengurus PSSI dan hanya sebuah shortcut jangka pendek untuk meraih prestasi instant yang terbukti gagal dilakukan. Membahana memang tetapi sejatinya semu.

Pedih hati saya ketika menyaksikan aksi striker macam Christian Gonzales yang meskipun sudah uzur masih saja terpakai di Timnas Indonesia. Prihatin juga hati ini melihat aksi nihil gol Sergio Van Djik di lini depan timnas kita. Di mana aksi anak-anak Indonesia yang lain? Kenapa pemain model beginian yang dipakai.

Ke depannya jangan ada lagi program naturalisasi. Kesalahan di masa lalu tak perlu diulangi kembali. Alihkan pada pendayagunaan potensi anak negeri sendiri mealui kompetisi berjenjang di seluruh pelosok negeri. PSSI bisa melibatkan Departemen Pendidikan dan Pengda PSSI dari semua provinsi. Memang membutuhkan proses panjang untuk membuahkan hasil, namun jika tidak segera dilakukan  mungkin menemukan bomber sejati bersama dengan sebuah Timnas yang mumpuni tak ubahnya hanya sebuah mimpi.

Selasa, 11 Desember 2012

MENDAMBA HUKUMAN



Miris membaca huluwarta Jawa Pos hari ini, Selasa 11 Desember 2012 yang berbunyi “FIFA, Tolong Hukum Kami”. Nuansa yang tersirat kalimat tersebut sungguh getir. Begitu mendamba hukuman sebagai jalan keluar terbaik dari konflik berkepanjangan antara PSSI dengan sekelompok orang yang menyebut dirinya sebagai Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI). Pertikaian kedua belah pihak sangat sengit dan menguras energi sampai kepentingan nasional dan kehormatan bangsa rela untuk tergadaikan.

Bagi saya, tidak penting untuk menilai siapa yang benar atau salah dalam konflik ini. Semuanya terasa sumir dan memuakkan. PSSI selalu bersembunyi di balik statuta FIFA dan sudah menutup mata terhadap fakta yang tumbuh dan berkembang. Sedangkan KPSI sendiri bertindak laksana preman tak berbudaya: tak tahu malu melarang sejumlah anak bangsa terbaik mengenakan kaos dengan emblem Garuda di dada untuk menegakkan panji merah putih di tetangga..

Lupakan sudah keluhuran bangsa Indonesia. Tidak mau sudah mereka yang bertikai untuk sekedar duduk bersama memecahkan problematika yang ada dengan kepala dingin. Semuanya ngotot merasa yang paling benar sementara para pecinta sepak bola terpecah pendiriannya menjadi dua kubu. Semuanya ikut berperang kata-kata walau sekedar di dunia maya. Ada yang pro Prof. Djohar, namun tak sedikit pula yang menyanjung La Nyala bagaikan dewa. Ada yang mencaci PSSI dengan dibumbui salam 10 – 0, namun banyak pula yang yang menghakimi KPSI sebagai anjing peliharaan Bakrie. Beberapa pihak mencela Indonesia Premier League (IPL) buatan PSSI sebagai liga tarkam, tapi tidak sedikit pula yang nyinyir dengan Indonesia Super League (ISL) sebagai sarang mafia dan pengaturan skor. Huh …gaduh sekali!

Mengharapkan bantuan Pemerintah untuk menyelesaikan konfil PSSI – KPSI juga terasa sia-sia. Laksana mencari ketiak di perut cacing saja. Useless. Buya Ismail pernah bilang bahwa mengharapkan ketegasan SBY itu sama dengan berharap munculnya tanduk dari kepala seekor kuda. Mitologi unicorn memang ada. Tapi itu legenda antahberantah nun jauh di sana. Tidak pernah ada di Indonesia. Menteri Pemuda dan Olahraga-nya saja kesandung masalah hukum. Jadi lupakan saja!

Apakah benar sangsi FIFA merupakan solusi terbaik?
Entahlah…, yang jelas hal ini merupakan pululan telak bagi dunia persepakbolaan tanah air. Timnas kita akan dilarang bertanding di semua event sepak bola internasional, mulai dari SEA Games, AFF Cup, Asian Cup sampai World Cup. Para pemain asing pun ogah untuk merumput di Liga Indonesia. Di samping itu, tidak ada satu  pun timnas negara lain yang mau bertanding dengan timnas kita. Pihak sponsor juga jadi enggan untuk mendekat. Potensi hebat para pemain junior di semua level usia jadi terkebiri. Singkatnya, Indonesia akan terisolir dari dunia sepak bola dan hanya jadi jagoan di kandang saja.

Ada pihak yang memandang bahwa jatuhnya sangsi dapat melahirkan momentum yang tepat untuk berbenah diri. Bubarkan PSSI dan KPSI lalu pilih orang-orang baru yang berkompeten dan berintegritas. Kita dapat memulainya lagi dari awal untuk menggulirkan liga sepak bola baru  yang lebih profesional, zonder APBD, dan jauhkan sepak bola dari ajang politik praktis. Kita punya figur-figur seperti Jokowi, Dahlan Iskan, Mahfud M.D., Rhoma Irama (?) atau mantan para pemain sepak bola yang punya dedikasi dan totalitas mumpuni.. Temukan juga Menpora yang tegas, yang tidak hanya sibuk memelihara kumis tapi juga bertanggungjawab penuh terhadap proses monitoring terhadap PSSI beserta dengan program-programnya. Libatkan pula rekan-rekan pers untuk memastikan agar PSSI tetap berjalan di jalar yang benar. Jangan seperti TV One dan ANTV yang absurd pemberitaannya terhadap sepak bola nasional.

Namun ….saya tetap berharap agar Indonesia tidak dijatuhi hukuman. Bila tanpa sangsi ternyata kita mampu merestorasi kehormatan bangsa, tentu kita tidak perlu lagi memelas untuk mendapatkan hukuman.

Jadi …..
Bubarkan PSSI dan KPSI sekarang juga!!

Senin, 10 Desember 2012

ORANG RUMAHAN YANG BERNAMA MESSI



Siapakah pemain sepak bola terhebat yang pernah ada di muka bumi?

Wow …! Jawabannya bisa beragam. Tergantung selera, pesanan politik ataupun faktor-faktor lain di luar sepak bola yang turut terkandung di dalamnya, seperti suku bangsa, agama, maupun gaya hidup dari pemain yang bersangkutan. Orang dapat dengan yakin menyebut dewa sepak bola adalah Pele karena ia berhasil membawa Brazil menjadi kampiun dunia sebanyak tiga kali (1958, 1962, dan 1970). Ada yang bilang Johan Cruyff dari Belanda dengan total football-nya. Ada pula yang menahbiskan Michael Platini dari Prancis dengan gaya bermainnya yang elegan. Namun tak sedikit pula yang memilih Maradona yang sanggup membawa Argentina Juara Dunia 1986 “sendirian”.

Pada dua dasawarsa berikutnya bertebaran pula nama-nama jenius di dunia sepak bola seperti Marco Van Basten, Roberto Baggio, Andri Shevchenko, Ronaldo, Ronaldinho, Kaka, samapai Zinedine Zidane. Kita juga tidak boleh nama-nama hebat lainnya seperti Romario, Rivaldo, Eric Cantona, David Beckham, George Weah, Jean Pierre Papin, Paolo Maldini atau bahkan …..Andik Vermansyah sekalipun (ups …sorry!).

Dalam lima tahun belakangan ini, persaingan memperebutkan predikat terbaik dalam dunia sepak bola selalu mengerucut pada diri Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Banyak orang seakan-akan tidak pernah bosan membandingkan keduanya. Cristiano terlihat sekali begitu berambisi menjadi yang terbaik. Sementara Messi terkesan lebih easy going dalam menyikapi persaingan yang nampak sangat kentara dibesar-besarkan oleh media.

Benarkah keduanya bersaing?

Bagi Ronaldo mungkin jawabannya adalah ya. Tapi bagi Messi mungkin bisa lain lagi. Dalam berbagai kesempatan, Messi selalu menegaskan bahwa tidak penting baginya untuk memperoleh predikat sebagai pemain sepak bola terhebat di jagat raya ini. Ia lebih memandang kemenangan tim sebagai yang terutama daripada ambisi pribadi. Terlihat naif? Hmmm ….Anda boleh-boleh saja berpendapat demikian. Tapi yang jelas rekor demi rekor selalu berhasil dibuat oleh pemain kelahiran Argentina yang postur tubuhnya tidak terpaut jauh dengan Bambang Pamungkas ini.

Saya akan kekurangan waktu bila harus menuliskan rekor apa saja yang sudah dibuat oleh Messi. Namun yang jelas, semalam ia baru saja memecahkan rekor pemain sepak bola asal Jerman bernama Gerd Muller. Selama tahun1972, Muller berhasil mencetak 85 gol. Catatan prestasi yang fantastis, bukan? Namun semalam rekor yang sudah bertahan selama 40 tahun itu berhasil dipecahkan Messi dengan berondongan gol-golnya ke gawang Real Betis. Total sampai hari ini Kapten Timnas Argentina tersebut sudah mencetak 86 gol selama tahun 2012. Torehan gol tersebut sangat berpotensi untuk bertambah mengingat Messi masih harus melakoni beberapa pertandingan lagi bersama Barcelona sebelum tahun ini berakhir.


Apakah ia merayakannya dengan clubbing sampai teler semalam suntuk?
Atau berkencan dengan para pekerja seksual di kamar hotel berbintang lima?
Ternyata tidak.

 Terus ….bagaimana reaksi Messi? Seperti biasa, ia menanggapinya dengan datar-datar saja.

“Saya harus segera pulang. Keluarga saya menantikan kedatangan saya di rumah,” cetus Messi saat dicegat wartawan.

Ya ampun ………..