Tampilkan postingan dengan label Secangkir Kopi Buat Pak Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Secangkir Kopi Buat Pak Guru. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 November 2014

ADE MURIDKU

Add caption
Anak itu bernama Ade. 12 tahun usianya. Hitam manis perawakannya dan tidak banyak bicara pembawaannya. Di antara semua teman sekelasnya, pakaian seragam Ade termasuk yang paling sederhana. Entah sudah berapa lama ia tidak memakai seragam baru. Ia pun tidak pernah belagu. Kenyataan bahwa sang ayah hanya berprofesi sebagai sopir angkot membuatnya selalu sadar bahwa segala sesuatu hanyalah anugerah-Nya semata.

Ade bukanlah siswa yang outstanding. Prestasi akademisnya biasa-biasa saja. Ketika teman-temannya yang lain sudah fasih bercas cis cus ria ala western, Ade cuma senyum-senyum saja. Bukan karena ia sudah mahir, namun karena Ade sangat lemah dalam bidang studi Bahasa Inggris. Ade suka sekali pelajaran olahraga. Meskipun saat itu kutahu badannya kurang lentur, ia tetap saja terlibat dalam semua aktifitas fisik di sekolahnya. Ia cukup bagus sebagai seorang defender futsal. Pernah suatu ketika, ia terpilih untuk memperkuat tim futsal sekolahnya dalam sebuah turnamen futsal antarsekolah. Meskipun bukan pemain inti, Ade tetaplah antusias. Duduk berlama-lama di bangku bench tidaklah menjadi persoalan baginya. Yang kuingat, tim futsal kami saat itu digebuk tim lawan dengan skor mencolok 1 – 5. Saat kembali ke sekolah dengan menggunakan mobil pinjaman dari orang tua, Ade muntah-muntah. Bukan karena didera kelelahan fisik atau mengalami kedukaan akut karena timnya kalah yang berujung pada gejala psikosomatis, namun karena mabuk perjalanan. ...!

Pernah suatu ketika Ade raib dari kelas. Tembok sekolah yang kokoh seolah tidak sanggup menahan gejolak jiwanya untuk ingin bebas. Menghilang ia bersama dengan 3 teman sekelasnya yang lain. Sebagai wali kelasnya, aku cukup bingung mencari budak-budak kecil ini. Namun entah kenapa, naluriku mengatakan bahwa mereka sedang bermain game di sebuah gerai game online yang terletak di sebuah kompleks pertokoan tak jauh dari sekolah kami. Sidak partikelir segera kulakukan ke tempat itu. Dan, benar saja. Kutemukan 3 temannya di tempat itu tapi tidak kulihat Ade. Agaknya, bocah tersebut sudah melarikan diri terlebih dahulu. Setelah lewat sejam lebih, baru aku berhasil menemukan Ade di sebuh lorong sempit di belakang sekolah. Mungkin maksudnya adalah mencoba melakukan kamuflase di antara tumbuhan liar yang berkeriapan di sana. Namun agaknya Ade lupa bila wali kelasnya itu jauh lebih berpengalaman dalam hal seperti itu karena memiliki track record kebandelan masa kecil yang tidak jauh berbeda.

Waktu terus berlalu. Ade berhasil lulus ujian akhir Sekolah Dasar dengan nilai lumayan. Hanya nilai Bahasa Inggrisnya saja yang masih pas-pasan. Ade sebenarnya bocah yang baik dan cerdas. Kupikir ia layak mendapat apresiasi untuk semua kerja kerasnya selama ini. Aku bangga pernah menjadi bagian dalam pembentukan utuh cakrawala pendidikannya.

Semenjak malam inagurasi kelulusan itu, aku jadi jarang berinteraksi dengan Ade. Kesibukanku yang padat dalam mengajar membuatku melupakAnnya. Yang kudengar, Ade masih aktif bermain futsal. Bahkan dia bersama dengan teman-temannya beberapa kali menjuarai turnamen futsal antarsekolah di Surabaya. Kali ini Ade bukan lagi penghangat bangku bench. Namanya selalu muncul di starting line up.

Pada suatu ketika, aku menghadiri sebuah kebaktian di gereja tempat sekolah kami berafiliasi. Ini sebuah kebaktian spesial karena bertepatan dengan peringatan ulang tahun dari gereja tersebut. Pembicaranya beken, rangkaian acaranya pun keren, jemaat pun mendapat berkat, dan yang paling penting nama Tuhan dipermuliakan.

Dalam sebuah performa kantata, kulihat wajah Ade di antara barisan pemuji. Ia sudah tumbuh menjadi sosok pria dewasa. Banyak yang berubah dari dirinya, Namun ada satu hal yang tetap sama: penampilannya tetap jauh dari kesan belagu. Sederhana.

Ade sempat bernyanyi solo di tengah kantata itu. Suaranya lantang, jernih, dan enak didengar. Jauh dari kesan minder atau pun show off.  Ia melantunkan sebuah lagu berbahasa Inggris. Tidak ada logat medok dalam rangkaian kata yang keluar dari bibirnya. Lagu tersebut berhasil ia sampaikan dengan baik dan sukses. Sejurus kemudian, Ade terlibat dalam sebuah performa acapela bersama dengan beberapa orang yang lain. Harmonisasi suara yang diciptakan cukup membuatku merinding disco. Brilian!

Sempat pula kudengar berita bahwa Ade telah terpilih untuk mewakili komisi kepemudaan gerejanya untuk menhadiri sebuah Youth Conference di luar negeri. Ahh ...sungguh besyukur melihat Ade yang sekarang. Ade yang kukenal dulu sebagai siswa yang biasa-biasa saja kini telah berubah menjadi Ade yang yang luar biasa. 

Aku sempat menemukan sebuah tulisan karya Andar Ismail tentang guru. Tulisannya tersebut semakin membuatku sadar bahwa peranku sebagai guru cuma menabur namun Tuhanlah yang memberikan pertumbuhan. Aku bangga dan biarlah kebanggaan yang tidak tergantikan oleh harta ini terus kubawa sampai aku menutup mata. Biarlah cuplikan tulisan di bawah ini dapat menjadi penghiburan dan inspirasi bagi guru-guru yang lain

Engkau mengenal saya, saya seorang guru. Saya sendiri tidak tahu kenapa saya jadi guru, Tetapi saya cukup senang, Tentu saja Tuhan, pahitnya banyak : ada murid yang kurang ajar dan orang tua yang cerewet, ada Pengurus Yayasan yang sok majikan dan gaji yang paspasan. Namun itu jadi terlupakan jika dibandingkan dengan manisnya : murid yang lucu dan suka tersenyum, murid yang sopan, rajin dan cerdas, murid yang tulisannya rapi, orang tua yang bijak, dan Pengurus Yayasan yang bersahabat. Apalagi melihat murid yang bertumbuh, Dulu takut dan ragu-ragu, kemudian menjadi percaya diri, Dulu malas, sekarang pekerja keras, Dulu bodoh, sekarang pandai, Dulu cuma memikirkan diri sendiri, sekarang suka menolong. Sungguh senang Tuhan, melihat mereka bertumbuh. 

Tuhan, saya sering meneteskan air mata, melihat mantan murid menjadi orang berguna. Terharu rasanya, kalau ada mantan murid menyapa, wajahnya hampir lupa, tetapi ketika dia menyebut nama dan tahun kelas, saya jadi ingat lagi murid-murid itu. Memang ada mantan murid yang buang muka, tapi itu cuma satu dua, kebanyakan menyapa dan bertanya, bercerita dan berbagi rasa, mengucapkan terima kasih dan bernostalgia. Dulu ia masih anak kemarin, sekarang sudah jadi orang berkedudukan tinggi. Dulu ia anak kecil, sekarang besar dan dewasa. Itu kepuasan seorang guru, itu kebanggaan saya. 

Tuhan, melihat murid bertumbuh, membuat saya tidak menyesal menjadi guru. Dulu ia pemalu, duduk di bangku paling belakang. sekarang ia menjadi pengurus Yayasan. Dulu ia nakal dan jarang ke gereja, sekarang menjadi pembesar gereja. Dulu dia murid saya, saya bangga. Tetapi Tuhan, ajarlah supaya saya jangan terlalu bangga, Sebab saya hanya menabur, mencangkul dan menyuburkan lahan, menyiram dan merawat, namun Engkaulah yang menumbuhkan. Tuhan, ajarlah supaya saya pun tidak hanya terpukau pada masa lampau, melainkan juga memperhatikan masa kini. 

Besok pagi saya akan mengajar, tolonglah saya membuat persiapan yang baik. Tolonglah saya bangun pagi sekali, supaya saya tiba di sekolah sebelum mereka. Besok pagi saya mengajar lagi, karuniakanlah saya badan yang kuat, pikiran yang segar, hati yang sabar, sikap yang bijak dan jiwa yang ikhlas. Supaya saya belajar menghargai setiap individu murid, belajar mendengarkan mereka, memanfaatkan masukan mereka, menerangkan dengan jelas dan mengajar dengan bermutu.

Tuhan, Engkau tahu, beberapa kali saya hampir berhenti, tergoda untuk berganti profesi. Kalau Engkau mau saya meneruskan semua ini, karuniakanlah saya hati yang tabah dan setia, supaya saya terus menjadi guru, sampai tuntaslah masa bakti ini, bakti kepadaMu, ya Tuhan. Kalau nanti segala karyaku ini purna, hanya satu yang saya minta, Kiranya Engkau berkenan atas pekerjaanku. Kiranya Engkau menerima dengan baik apa yang kukerjakan. Biarlah ada orang lain yang meneruskannya, biarlah murid-muridku terus bertumbuh. Inilah hidupku bagiMu, ya Tuhan, hidup seorang guru. Hanya ini yang dapat kuberikan kepadaMu. Saya akan meninggalkan pekerjaan ini dengan syukur.

Tuhan, tidak apa-apa kalau kelak tidak ada mantan muridku, yang mengantarku ke peristirahatan terakhir. Yang penting bukan siapa yang mengantar, tetapi siapa yang menjemput. Kristus Tuhan, Engkau akan menjemput saya, bukan ? Engkau akan menjemput saya dengan senyuman, dengan pelukan yang terasa hangat. Lalu Engkau berkata : "Mari, hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, Sebab ketika aku belum bisa menulis dan membaca, kamu mengajar Aku. Ketika Aku keliru, kamu menegur Aku. Ketika Aku berprestasi, kamu memuji Aku, kamu mendidik Aku. Hai kamu penabur yang baik dan setia, mari masuklah dan terimalah Kerajaan yang Kusediakan bagimu"
Amin. 


Rabu, 11 Desember 2013

UNCENCORED ...!!!


Menjelang Natal ini, saya menerima banyak surat dari para siswa. Isi suratnya bervariasi, lucu sekaligus mengharukan. Anak-anak identik dengan kejujuran. So saya putuskan untuk mencantumkan surat-surat tersebut di bawah ini apa adanya. Uncencored! Kesalahan tata bahasa dan tanda baca saya biarkan saja. Lagipula ini orisinal keluar dari hati mereka. Selamat membaca ....


Buat Mr Rudi:
saya suka mendengar ceritamu
Mr Rudi kau suka bercanda
Mr Rudi kau baik dan bersemangat bercerita dan aku suka mendengar ceritamu karena lucu
Justin

Dear Mr Rudy thanks because you teachs me a futsal and next time if futsal have tournament again i will come and absent for tournament
Matthew – Grade 3A

Dulu Mr Rudy mengajar di 3A Mr Rudy cerita yang lucu dan Mr mengajar futsal Thanks Mr Rudy
Kim Young Tac – Grade 3A

Mr. terima kasih buat Mr. Mr. sudah mengajar aku. Thank you Mr.
Benic – Grade 3A

Mr. Rudy thank you soalnya sudah ngajarin futsal. Mr. Rudy juga suka godain. Sekarang jadinya Jelo tau cara futsal. Mr. Rudy merry chismast. Mr. Rudy senang-senangnya liburan ini. good bless you Mr. Rudy.
Jelo – Grade 3A

Terima kasih telah mengajar futsal sampai Jose sehebat ini. Terima kasih telah mengajar Jose sampai bisa tanding. terima kasih sudah memilh untuk iku tanding
Jose – Grade 3B

Makasih sudah diajarkan futsal sama ini. Suda ikut turnamen futsal dan diajar mengikuti latihan dan turnamen
Gabriel – Grade 3C

Terima kasih atas pelajaran Mr. Rudy yang membantu saya dalam pelajaran Sosial, sehingga saya menjadi pintar dalam Social, Mr. Rudy tolong ajari kita Social di semester 2. Dan terima kasih atas pelajaran futsal supaya fisiku menjadi kuat dalam bermain futsal dan supaya bisa menjadi penjaga gawang yang baik dalam bermain futsal. Sehingga waktu kita kalah berusaha lagi untuk menang di tournament dan selalu memberi pendapat supaya dapat memperbaiki kesalah kita. God bless you.
Timothy – Grade 5A

Kamu suka bercanda bercerita yang lucu cerita Mr. Rudi banyak
Josh – Grade 4B

Hallo, Mr. Rudy selamat pagi. Semoga setiap hari beruntung dan semua keluarga sehat dan keluarga Mr diberkati dan semoga pekerjaan Mr lancar dan Mr bisa mendapat dana supaya Mr diberkati Tuhan. Mr harus berdoa untuk supaya Mr bisa sehat. Terima kasih Mr sudah bisamengajar semua kelas dan mengajar aku dengan baik di sekolah Mr baik dan sabar. Dan Mr sudah sudah bisa untuk Mr bisa mengajar  dan memberikan soal modul dan eval dan latihan yang tidak cukup susah/mudah/terlalu susah dan bisa aku pahami/aku bisa belajar pelajaran dengan baik dan aku juga bisa menghafal dengan mudah untuk aku pahami di sekolah
Enrique – Grade 5A

Terima kasih telah mengajarkan aku bermain futsal dan terima kasih telah mengajar sosial dan PKN. Juga terima kasih telah mengajar Social saat lomba Angelus Custos. Terima kasih telah mengajar futsal sampai bagus. Terima kasih telah guyon saat pelajaran agar kelas tidak sunyi. Semoga Tuhan Yesus memberkati. Merry Christmas. God bless you.
Richard – Grade 5A

Terima kasih sudah membimbingku selama akunkelas lima dan enam. Terima kasih sudah mengajar dengan sabar. Dan juga sudah mengajar dengan baik sehingga aku bisa memahami pelajaran dengan baik. Dan berusaha agar semua murid memahami dengan baik.
Terima kasih sudah bisa mengajarku banyak pelajaran dan hal-hal yang baik sehingga aku bisa mendapat nilai yang bagus. Dan bisa mengajar murid-murid dengan seru.
Harapan untuk kedepannya adalah supaya bisa lebih lucu dan sabar. Thank you!!!
Clair – Grade 6A

Mr. Rudy, thank you that you already teach me. I like you because you are funny man. always make joke and your mind is unlimited. You always can think more that anyone can. You always make me more want to learn about Social and know more about you. I’m sorry if I fail you in the test. Thank you and God bless you. Keep the good work and keep smile!
Bryan – Grade 6A

Thanks for being a joyfull teacher. You are a kind and nice teacher. I can always understand your lesson easily because you always combine it with some jokes. I always eager to wait for the social lesson. You always make me smile whenever I was sad. You can always meke the hardest lesson become easy and funny with your jokes. You are the best teacher that I ever could get. I wished taht you will be the grade 6A home teacher. But I guess not. I will always remember you as on eof the best teacher that ever teached me. I am so lucky that you you ever teach me. I wish we could meet each other some time when I grow up. I guess we will be seperated when I graduated from SD because I will be in Cita Hati. But I guess this is for the best that my mom joins me to Cita Hati. I wish you can always be my homeroom teacher. I hope I can always remember about you and I also hoped that you will remember me also.
 Ivan – Grade 6A
Dear Mr Rudy
Thank for being a joyful teacher, you make happy. Your motivation help me to keep me to do my best, your teaching is funny and that make me relax. You told me how to do something what i cant, seriously, I really forgot about it. Even thought your funny, your still teach us to be discipline and grateful, I used to be grateful, but now im not anymore, maybe a bit lazy though. even though sometimes you hurt my feelings is still like you though. I still like you. I hope you stop making jokes about other people and make jokes taht not makes other hurt, and also dont make joke to much until it makes other unfocus anymore, but your jokes also make encourage someone, that is negative of your jokes, but still thank you for being  agood teacher, i really Appreciate for what you done for me, but i still hope you can change your attitude change about the jokes, but the other things is still like it, thank you for teaching me and other stuff, sorry if this message is being repeated (maybe). anyway this is all  my message and what i want to write. thank you for reading this message, i hope you like it and peace

Justin – Grade 6A   

Senin, 18 November 2013

MOVE ON

Tiga bulan sebelum pelaksanaan Olimpiade Beijing pada tahun 2008, perenang Amerika Serikat yang bernama Michael Phelps mencatat hasil yang kurang memuaskan dalam sebuah turnamen renang ajang pemanasan di Eropa. Phelps hanya memperoleh medali perunggu dalam kompetisi itu padahal ia adalah tumpuan harapan negararanya untuk memperoleh medali emas di olimpiade. Sesaat setelah perlombaan usai, ia menemui pelatihnya dan bertanya, “Coach, bagaimana (how) supaya saya bisa menang di Beijing nanti?”

Dalam bukunya yang berjudul Momen Inspirasi, Andreas Nawawi menjelaskan bahwa kata tanya yang paling banyak digunakan saat seseorang menghadapi kegagalan adalah mengapa (why). Bila menggunakan kata ini, kecenderungan manusia adalah menyalahkan orang lain, kondisi, atau apa saja. Seyogyanya bila mengahadapi kegagalan, kita perlu menggunakan kata tanya bagaimana (how). Kata tanya ini bersifat konstruktif dan menunjukkan sikap kesadaran bahwa diri kita masih kurang dan perlu berusaha untuk meningkatkan prestasi di masa mendatang.

Dalam kehidupan ini, kita tentu sering menemui kegagalan yang membuat terjun bebas dalam jurang kekecewaan. Orang lain bisa mengecewakan. Kita juga kerap kali disalahmengerti, tertolak, diremehkan, direndahkan, dan banyak hal lain yang membuat kekecewaan semakin bergelora dan berujung pada rasa tawar hati. Kita tidak lagi bersemangat dalam mengejar impian. Kita berubah menjadi sosok apatis yang selalu dirundung kekecewaan. Kita malas melangkah. Problem utamanya adalah bukan karena tidak bisa tapi kita enggan untuk melepaskan pengampunan.

Untuk bisa move on, kita harus bisa melepaskan pengampunan. Joey Bonifacio dalam bukunya The Lego Principle menegaskan, “Forgiveness is not something we do for other people. We do it for ourselves to get well and move on.” Tujuan hakiki dari melepaskan pengampunan ternyata adalah untuk diri kita sendiri dan bukan orang lain. Ibaratnya, kita ini sedang membuang pelbagai kotoran yang mengendap pada relung jiwa kita. Ketika kita mengampuni orang lain, sebenarnya kita sedang membenahi diri kita sendiri.

Pengampunan juga perlu dilakukan untuk diri sendiri. Banyak orang tidak mampu move on karena terlalu menyalahkan diri sendiri. Mereka didakwa siang dan malam oleh perasaan bersalah yang tidak berujung. Kita menjadi lupa bahwa sebenarnya si jahatlah yang memunculkan perasaan tersebut. Alkitab mencatat bahwa Yudas dan Petrus melakukan kesalahan fatal ketika Yesus disalibkan. Yudas menjual Yesus sementara Petrus menyangkal-Nya. Namun nasib Yudas berakhir secara tragis ketika ia memutuskan untuk bunuh diri karena ia  tidak mampu memaafkan dirinya sendiri. Petrus tetap move on karena sadar bahwa di dalam penyesalan ia membutuhkan kasih karunia untuk terus melangkah.


Michael Phelps akhirnya kembali berlaga dalam Olimpiade 2008 yang berlangsung di Beijing. Kegagalan di Eropa memang sempat membuat Phelps kecewa. Namun ia tidak menyalahkan situasi. Tidak pula ia menyalahkan pelatih dan diri sendiri. Sebaliknya, secara konstruktif ia tetap berusaha untuk memaksimalkan semua potensi yang dimilikinya. Sejarah mencatat bahwa Michaael Phelps berhasil meraih delapan medali emas dalam ajang olahraga 4 tahunan tersebut.  Orang akan mengingatnya sebagai perenang yang mampu memperoleh medali emas terbanyak sepanjang sejarah perhelatan olimpiade modern. Semua sepakat bahwa Michael Phepls adalah legenda renang kaliber dunia. Namun yang bagi saya, bagian yang terpenting dari kisah Michael Phelps adalah bukan pada pencapaian delapan medali emasnya, melainkan kemampuannya untuk move on.

Selasa, 07 Mei 2013

MESSI DEPENDENCIA


Pernah mendengar istilah Messi Dependencia?

Messi Dependencia adalah sebuah istilah untuk menggambarkan ketergantungan yang amat sangat tim sepak bola Barcelona terhadap diri Lionel Messi. Barcelona adalah klub sepak bola asal Spanyol yang merajai persepakbolaan dunia dalam 5 tahun belakangan ini. Tidak bisa disangkal, kehebatan mereka selalu bertumpu pada diri seorang Lionel Messi. Pemain asal Argentina tersebut seakan menjadi roh di dalam tim Barcelona. Bila Sang Messi-as tidak bermain, maka Barcelona tak ubahnya seperti sebuah tim medioker yang selalu kesulitan mencetak gol. Tidak ada lagi aksi aduhai nan fantastis. Yang ada hanyalah gaya passing monoton tanpa sensasi yang berarti sehingga mudah ditaklukkan. Lionel Messi tak ubahnya adalah sosok penentu. Ia adalah kekuatan Barcelona yang nyata sekaligus juga titik lemah kronis Barcelona yang sulit disembuhkan.

Ketergantungan secara fatalistik terhadap hanya satu figur dalam sepak bola memang berdampak negatif bagi sebuah tim. Bagaimana pun juga, sepak bola adalah permainan yang menekankan pada kerja sama semua komponoen dalam tim dan bukan aksi one man show. Namun dalam iman kristiani, Jesus Dependencia adalah sebuah keharusan. Yesus haruslah menjadi pengendali utama dalam kehidupan kita sebab Dia adalah Pokok Anggur dan kita ini adalah ranting-rantingnya. Ranting-ranting tersebut tidak dapat berbuat apa-apa jika tidak bergantung penuh pada Sang Pokok Anggur.

Seiring dengan berjalannya waktu, sebagai guru, kita merasa semakin ahli dalam menjalankan tugas-tugas sehari-hari. Kita semakin berpengalaman dalam menghadapi berbagai macam tipe siswa maupun orang tua. Rupa-rupa metode pengajaran juga berhasil kita implementasikan dengan biak. Sertifikasi Pemerintah pun juga telah berhasil kita raih. Ibaratnya, kita benar-benar sudah memahami apa yang harus kita lakukan sebagai seorang guru. Kita menjadi sombong dan lupa bahwa tanpa sadar kita sudah tidak lagi bergantung pada Tuhan.

Kita tidak lagi melibatkan kuasa Roh-Nya bekerja dalam setiap materi yang kita persiapkan. Kita tidak lagi berdoa dan berpuasa bagi para siswa kita yang menghadapi masalah. Alih-alih menggunakan dasar Firman Tuhan, kita cenderung lebih nyaman menggunakan pelbagai pendekatan pendidikan modern praktis dalam menyikapi persoalan yang datang mendera. Bukan lagi Christ Center yang kita damba melainkan Self Dependencia yang coba kita terapkan.

Apabila permasalahan semakin menggurita, kita lalu berubah menjadi guru yang garang dan tidak lagi ramah terhadap siswa. Kita menjadi kalut, stress,  kamseupay, dan galau karena selalu dikejar-kejar target ketuntasan mengajar. Kita bergelut dengan program sekolah-sekolah setiap hari. Berkutat dengan nilai angka dan narasi yang harus orisinil. Sementara itu, complaint siswa dan orang tua juga datang silih berganti tanpa budaya. Sertifikasi yang kita harapkan turun juga mendadak macet entah di mana padahal bertumpuk tagihan bulanan sudah menanti. Intinya ....kita sungguh di dalam keadaan burning out!

Berhentilah sebentar wahai Guru. Lihatlah Yesus, Sang Guru Agung itu. Ia tidak datang dengan tangan mengacung untuk memberi kutuk dan hukuman. Ia datang dengan tangan terbuka, mau menerimamu kemabali apa adanya. Jiwa yang letih lesu boleh bebas datang mendekat kepada Yesus dan Ia berjanji akan memberikan kelegaan yang sejati.

Messi Dependencia adalah kelemahan mutlak, namun Jesus Dependencia adalah solusi. Jadi izinkanlah Dia beraksi dalam derap dinamika kita sebagai guru, sebab di dalam Dia, kita cakap menanggung segala sesuatu. 

Rabu, 01 Mei 2013

SADAR KACA


Kita ini adalah insan yang sadar kaca. Di mana pun ada kaca, kebanyakan dari kita selalu terdorong secara alamiah untuk mengaca. Kita begitu menikmati saat-saat berada di depan cermin. Tidak hanya di depan cermin rias, cermin  di dalam toilet maupun kaca spion kendaraan bermotor pun sanggup menjadi media murah meriah bagi kita untuk sekadar berkaca. Dinding lift, kolam, atau benda apa saja yang sanggup memantulkan bayangan kita juga tidak luput dari keganasan hasrat kita untuk mengagumi diri sendiri.

Apakah manusia adalah makhluk narsis? Hmmm ....bisa jadi. Namun pantulan bayangan bisa sangat mematikan. Dalam mitologi Yunani dikisahkan bahwa Medusa adalah seorang dewi yang cantik tiada tara yang berbadan dan berambut ular. Semua pria yang berani menatap matanya akan berubah menjadi batu. Ia begitu ditakuti sebagai pembawa kematian. Sampai kemudian muncul manusia setengah dewa bernama Perseus yang berani melawan kemurkaan sang angkara. Dengan menggunakan perisai yang berkilauan laksana cermin, Perseus berhasil memantulkan tatapan mata sang dewi sehingga kemudian Medusa sendirilah yang berubah menjadi batu.

Di zaman sekarang ini, tidak ada satu pun dari kita yang berubah menjadi batu saat berkaca di depan cermin atau di depan media apaun yang mampu memantulkan bayangan. Kita tidak pernah risau akan hal tersebut. Kita akan menjadi luar biasa risau  bila menemukan ada ketidakberesan dalam diri kita lewat pantulan cermin itu. Bisa jadi kita menemukan tumbuhnya jerawat di wajah kita. Kita bisa juga bertambah galau bila mendapati wajah kita mulai dihiasi kerut keriput atau efek panda di sekitar mata kita.

Kita kemudian jadi mudah merespon secara negatif terhadap diri sendiri berdasarkan pantulan bayangan yang kita lihat lewat kaca. Naluri sadar kaca tersebut kemudian menggiring kita ke dalam prespektif minor terhadap diri sendiri. Apalagi kemudian kita mulai melakukan komparasi terhadap sosok lain yang kita anggap lebih elok secara fisik dari diri kita. Kita menjadi insan yang lupa bersyukur bahwa sebenarnya kita diciptakan menurut rupa dan gambar Sang Pencipta.

Guru harus mempunyai gambar diri yang baik. Mustahil bagi guru untuk menjadi inspirasi bagi murid-muridnya jika dirinya kehilangan prespektif yang benar akan dirinya sendiri. Aura guru yang memiliki kepercayaan terhadap gambar dirinya akan dapat dirasakan secara nyata oleh para murid. Mungkin guru bukanlah manusia memikat secara kontur fisik, namun sorot mata dan pendekatan personalnya mampu menimbulkan rasa aman yang proporsional  bagi semua muridnya. Ia memang bukan seorang manusia super yang tahu segalanya. Ia cuma seorang insan sederhana yang tidak pernah lupa berkaca setiap hari sambil berkata, “ Aku ini seorang champion yang dipercayakan Tuhan untuk mendidik manusia-manusia belia calon champion juga.”

Nah ...selamat berkaca.

Selasa, 30 April 2013

AKU GURU, MAKA AKU MENULIS


Menulis itu kontemplasi. Dengan menulis, kita merangsang, memacu, dan menuangkan pemikiran kita dalam bentuk tulisan. Pada awalnya memang butuh energi berlebih. Pusing dan penat kadang juga turut menyertai. Terutama bila kita merasa miskin ide dan gagasan. Namun sebenarnya ide dan gagasan itu bertebaran di sekeliling kita. Bila kita mampu mengaisnya, menulis bisa menjadi suatu aktifitas yang menyenangkan.

Guru itu perlu menulis. Dengan menulis berarti guru tidak membiarkan dirinya menjadi budak kurikulum yang sering berganti seirama dengan naik turunnya Bapak Menteri. Guru menjadi insan merdeka yang bebas berkreasi dalam bahasa tulisan. Tulislah apa saja. Tak perlu menunggu sekaliber Pramoedya Ananta Toer atau pun Andrea Hirata untuk berani menulis. Guru ya guru dan tidak berdosa apabila sang guru berkenan untuk menulis.

Masa hidup guru di dunia ini memang ada batasnya. Namun tulisan yang telah dibuat oleh guru akan terus bergema melintasi zaman. Menjadi inspirasi dari generasi ke generasi. Tulislah tentang kehidupan. Tulislah tentang keindahan sastra. Beranilah menulis tentang politik dan olahraga. Tuangkanlah pengalamanmu saat berhadapan dengan siswa yang berdiri di tepian jurang kegagalan. Kisahkanlah kepiawaianmu dalam memasak, merancang komponen listrik dan elektronika, atau pun dalam bermusik. Menulislah tentang metode pengajaran baru nan kreatif ala dirimu sendiri. Janganlah pernah minder dengan Einstein bila harus menulis tentang prespektif lain dari teori relativitas. Tidak usah merasa sungkan dengan Picasso, Pascal, Rumi, Sukarno, Gandhi, atau pun Bambang Pamungkas, bila tulisanmu berbenturan dengan alam berpikir mereka. Dan bila perlu, tulis sajalah tentang kecurangan berjamaah seputar Ujian Nasional yang terjadi setiap tahun yang dipampang secara nyata dan cetar membahana di depan pemandanganmu.

Komedian Bill Cosby pernah menyatakan bahwa ia tidak mengetahui kunci kesuksesan. Namun satu hal yang ia tahu bahwa kunci kegagalan adalah berusaha menyenangkan semua orang. Tulisan guru mungkin tidak mampu memuaskan dan menyenangkan semua orang. Tulisan guru mungkin akan diedit karena terlalu berani mengungkapkan fakta. Mungkin juga akan dicibir karena dianggap ngawur dalam segi kebahasaan. Dianggap sesat karena terlalu melompat jauh melintasi dimensi berpikir orang kebanyakan. Atau bahkan dibredel dan tidak pernah diterbitkan karena miskin potensi meraih keuntungan secara finansial.

Oh my goodness ....ribet amat mau menulis! Tinggal tulis saja maka tulisanmu jadi!


Senin, 01 April 2013

PAPA, PEMILIK CINTA YANG TERLUPAKAN



Suatu ketika saya menerima Blackberry Messenger yang begitu menyentuh hati saya. Izinkan saya untuk berbagi dengan kalian semua.

Saat berada jauh dari kedua orang tua, kamu akan selalu merindukan seorang mama. Bagaimana dengan papa? Mungkin karena mama yang selalu menelepon dan menanyakan keadaanmu. Tapi tahukah kamu bahwa ternyata papalah yang menyuruhnya?

Mungkin sewaktu kecil, mamalah yang selalu mendongeng di setiap tidurmu. Tapi tahukah kamu bahwa sepulang papa bekerja, dia selalu menanyakan kabarmu dan apa saja yang kamu lakukan?

Pada saat kamu akan belajar naik sepeda dan papa melepaskan kedua roda bantu, mama akan berkata. “Jangan dulu, Pa. Nanti dia jatuh!” Tapi tahukah kamu bahwa dalam hati kecil seorang papa, dia percaya bahwa anaknya pasti bisa? Maka papa hanya akan menatapmu, membiarkanmu saat terjatuh, dan hanya menjagamu dari kejauhan karena papa ingin anaknya mandiri.

Pada saat kamu beranjak remaja, kamu mulai menuntut papa untuk dapat izin keluar malam dan papa menjawab, “TIDAK BOLEH!!” Tahukah kamu papa melakukannya untuk menjagamu? Karena bagi seorang papa, anak adalah satu hal istimewa di hidupnya. Setelah itu, kamu menjadi marah kepada papa dan kemudian masuk ke kamar sambil membanting pintu. Lalu mama mendatangimu dan membujukmu. Tapi tahukah kamu bahwa saat itu papa memejamkan mata dan menahan gejolak dalam batinnya? Papa sangat ingin memberikan yang kamu minta. Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu.

Ketika kamu dewasa dan kamu harus pergi ke kota lain, papa harus melepaskanmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan papa terasa kaku? Papa hanya tersenyum dan menasehatimu untuk berhati-hati. Tapi tahukah kamu bahwa dia ingin sekali menangis seperti mama dan memelukmu dengan erat. Yang papa lakukan hanyalah mengusap air mata di sudut matanya dan berkata, “jaga dirimu baik-baik, Nak!” Tahukah kamu papa melakukan semua itu agar kamu jadi kuat. Kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Papa itu seperti jembatan yang membiarkan anak-anaknya berjalan melewatinya. Ketika anak-anaknya telah sampai ke seberang, jembatan itu akan roboh dan runtuh dengan penuh sukacita. Dia akan lebih bersukacita ketika anak-anaknya juga menjadi jembatan yang mampu mengantar generasi berikutnya menuju gerbang keberhasilan.

Sabtu, 02 Maret 2013

PLAY HARD TILL THE END


Tim Futsal sekolah kita beraksi lagi. Dengan komposisi pemain yang hampir sama ketika menjuarai Elyon Cup pada medio Januari yang lalu, Kevin Ezra dkk berlaga kembali dalam Turnamen Futsal Kelt Cup. Turnamen yang diadakan pada tanggal 17 Februari 2013 di Lapangan Futsal Ole-Ole ini diikuti oleh 10 Sekolah Dasar yang berada di kawasan Surabaya. Tidak seperti  turnamen futsal lain yang biasanya menggunakan format sistem gugur, turnamen Kelt Cup ini menerapkan sistem round robin dalam dua grup. Semua pertandingan diselesaikan dalam kurun waktu satu hari saja. Tentu saja penerapan sistem semacam ini dalam kurun waktu satu hari menyebabkan kelelahan yang luar biasa dalam diri semua kontestan.

Pada pertandingan pertama, tim MDC berhasil mencatat start awal yang sempurna dengan menghempaskan Cita Hati West dengan skor mentereng 7 – 0. Kevin Ezra sebagai kapten tim berhasil membuat hattrick ke gawang lawan. Diikuti dengan catatan 2 gol Darren Maxwel serta aksi Timothy Jason dan Rioderryo dengan donasi masing-masing 1 gol.

Selanjutnya tim kita berhasil mengalahkan SD Godwins dengan skor 4 – 1. Kali ini MDC cukup sering membuang peluang mencetak gol. Berkali-kali tendangan pemain kita digagalkan oleh mistar gawang lawan. Namun kebuntuan itu berhenti via aksi gol back heel Jefferson. Meskipun gawang MDC harus kebobolan, namun berondongan gol MDC tidaklah berhenti. Hattrick Timothy Jason berhasil menyudahi perlawanan Godwins.

Setelah bermain imbang tanpa gol dengan Ciputra, MDC harus melakoni pertandingan terakhir di fase grup melawan juara bertahan tahun lalu, SD Al Falah. Faktor kelelahan sudah mulai mendera para pemain. Namun dengan semangat juang yang tinggi, tim kita berhasil mencatat kemenangan dengan skor tipis 2 – 1 melalui gol John Patrick dan Timothy Jason. MDC pun berhasil melaju ke babak semifinal dengan predikat sebagai juara grup B.

Di babak semifinal, MDC harus berhadapan dengan runner up grup A, yaitu tim futsal dari SD Cita Hati East. Pertandingan berjalan dengan alot dan kompetitif. MDC berhasil leading terlebih dahulu via dwi gol Timothy Jason. Namun ternyata tim lawan berhasil menyamakan kedudukan. Skor 2 – 2 bertahan sampai pertandingan normal usai. Kemenangan harus diselesaikan melalui drama adu penalti. Dalam adu penalti ini, goal keeper Kevin Halim berhasil melakukan aksi heroik dengan menggagalkan 2 eksekutor penalti lawan sementara 3 penendang MDC berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Ya...MDC berhasil melaju ke babak grandfinal.

Pada babak grandfinal, MDC kembali harus berhadapan dengan Tim Futsal SD Ciputra. Keletihan yang amat sangat benar-benar sudah mendera seluruh pemain MDC. Beberapa pemain pun juga dirundung cedera. Namun semangat juang para pemain tetap menyala. Dengan tekad dan kepercayaan diri yang tinggi, mereka kembali berlaga melawan Ciputra yang juga tengah mengalami permasalahan yang sama.

MDC berhasil unggul terlebih dahulu melalui lesakan 2 gol Timothy Jason. Namun Ciputra dengan cepat menyamakan kedudukan. Babak pertama pun berkesudahan dengan skor sama kuat 2 – 2. Pada babak kedua, stamina para pemain MDC benar-benar sudah drop. Semangat saja tidak cukup untuk menahan gempuran para pemain Ciputra yang harus diakui bermain lebih baik. Dua gol kembali bersarang ke gawang kita tanpa mampu disamakan lagi oleh para pemain MDC. Pertandingan pun usai dengan kekalahan di pihak kita. Ciputra menjadi Juara sedangkan MDC harus puas sebagai runner up Kelt Cup 2013. Congratulations ...!

Meskipun MDC gagal di final, namun bagi saya determinasi dan mental beranding yang sudah ditunjukkan para pemain berhasil menjadi elemen penting yang melebihi hasil akhir pertandingan itu sendiri. Terima kasih kawan-kawan ....kalian sudah memperlihatkan tentang arti perjuangan sampai akhir dan karakter juara di depan mata kami semua.

Tim Futsal MDC
Juara II Kelt Cup 2013
Kevin Halim (GK), John Patrick Joseph Wirawan, Kevin Ezra Nathanael (C), Timothy Jason, Jefferson Ivan Chandra, Alexander Imanuel Iman, Kenneth Ansell Simbolon, Darren Maxwell, Rioderryo Soetarso, Kimmy Raifonzo Lumintang

Coach                    : Rendra Permadi, S.Pd.
Manager              : Rudy Irawan, S.S.
Assistant              : Henky Pinontoan