Senin, 10 Desember 2012

ORANG RUMAHAN YANG BERNAMA MESSI



Siapakah pemain sepak bola terhebat yang pernah ada di muka bumi?

Wow …! Jawabannya bisa beragam. Tergantung selera, pesanan politik ataupun faktor-faktor lain di luar sepak bola yang turut terkandung di dalamnya, seperti suku bangsa, agama, maupun gaya hidup dari pemain yang bersangkutan. Orang dapat dengan yakin menyebut dewa sepak bola adalah Pele karena ia berhasil membawa Brazil menjadi kampiun dunia sebanyak tiga kali (1958, 1962, dan 1970). Ada yang bilang Johan Cruyff dari Belanda dengan total football-nya. Ada pula yang menahbiskan Michael Platini dari Prancis dengan gaya bermainnya yang elegan. Namun tak sedikit pula yang memilih Maradona yang sanggup membawa Argentina Juara Dunia 1986 “sendirian”.

Pada dua dasawarsa berikutnya bertebaran pula nama-nama jenius di dunia sepak bola seperti Marco Van Basten, Roberto Baggio, Andri Shevchenko, Ronaldo, Ronaldinho, Kaka, samapai Zinedine Zidane. Kita juga tidak boleh nama-nama hebat lainnya seperti Romario, Rivaldo, Eric Cantona, David Beckham, George Weah, Jean Pierre Papin, Paolo Maldini atau bahkan …..Andik Vermansyah sekalipun (ups …sorry!).

Dalam lima tahun belakangan ini, persaingan memperebutkan predikat terbaik dalam dunia sepak bola selalu mengerucut pada diri Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Banyak orang seakan-akan tidak pernah bosan membandingkan keduanya. Cristiano terlihat sekali begitu berambisi menjadi yang terbaik. Sementara Messi terkesan lebih easy going dalam menyikapi persaingan yang nampak sangat kentara dibesar-besarkan oleh media.

Benarkah keduanya bersaing?

Bagi Ronaldo mungkin jawabannya adalah ya. Tapi bagi Messi mungkin bisa lain lagi. Dalam berbagai kesempatan, Messi selalu menegaskan bahwa tidak penting baginya untuk memperoleh predikat sebagai pemain sepak bola terhebat di jagat raya ini. Ia lebih memandang kemenangan tim sebagai yang terutama daripada ambisi pribadi. Terlihat naif? Hmmm ….Anda boleh-boleh saja berpendapat demikian. Tapi yang jelas rekor demi rekor selalu berhasil dibuat oleh pemain kelahiran Argentina yang postur tubuhnya tidak terpaut jauh dengan Bambang Pamungkas ini.

Saya akan kekurangan waktu bila harus menuliskan rekor apa saja yang sudah dibuat oleh Messi. Namun yang jelas, semalam ia baru saja memecahkan rekor pemain sepak bola asal Jerman bernama Gerd Muller. Selama tahun1972, Muller berhasil mencetak 85 gol. Catatan prestasi yang fantastis, bukan? Namun semalam rekor yang sudah bertahan selama 40 tahun itu berhasil dipecahkan Messi dengan berondongan gol-golnya ke gawang Real Betis. Total sampai hari ini Kapten Timnas Argentina tersebut sudah mencetak 86 gol selama tahun 2012. Torehan gol tersebut sangat berpotensi untuk bertambah mengingat Messi masih harus melakoni beberapa pertandingan lagi bersama Barcelona sebelum tahun ini berakhir.


Apakah ia merayakannya dengan clubbing sampai teler semalam suntuk?
Atau berkencan dengan para pekerja seksual di kamar hotel berbintang lima?
Ternyata tidak.

 Terus ….bagaimana reaksi Messi? Seperti biasa, ia menanggapinya dengan datar-datar saja.

“Saya harus segera pulang. Keluarga saya menantikan kedatangan saya di rumah,” cetus Messi saat dicegat wartawan.

Ya ampun ………..




Sabtu, 08 Desember 2012

ANDI VERSUS ACENG



Keputusan Andi Alfian Mallarangngeng untuk mundur dari jabatan Menpora agaknya menjadi hal baru dalam dunia perpolitikan tanah air. Sebelumnya tidak pernah ada pejabat publik yang dengan legowo mengundurkan diri dari jabatannya bila tersandung masalah hukum. Bukannya membela Andi, tapi saya berpikir bahwa langkah mundur sang menteri patut dikritisi  sebagai sebagai tindakan yang gentle dan layak untuk dipuji.

Andi Alfian Mallarangngeng memang ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) salah satu tersangka korupsi proyek kompleks olahraga terpadu di Hambalang, Bogor. Ia memilih mundur dari Kabinet Indonesia Bersatu karena merasa tidak dapat dengan efektif melakukan tugas-tugasnya pasca pencekalan dirinya untuk bepergian ke luar negeri. Di samping itu Andi juga tidak ingin menjadi beban bagi Presiden Yudhoyono dan memilih untuk berkonsentrasi menghadapi permasalahan hukum yang dialaminya.

Sejarah mencatat bahwa sudah beberapa kali pejabat publik di negeri ini tersandung masalah hukum. Namun tak satu pun dari mereka yang mau untuk mengundurkan diri. Budaya malu itu tidak dikenal di Indonesia. Bandingkan dengan Jepang. Para pejabat mereka dengan elegan mau meletakkan jabatannya bila terindikasi terlibat dalam sebuah pelanggaran hukum. Menjadi terduga saja agaknya menjadi sinyalemen akhir tercemarnya kredibilitas yang mereka miliki.

Kita ini memang punya semboyan nasional yang kita pelajari semenjak duduk di bangku sekolah: Maju Terus Pantang Mundur. Para pejabat kita rupanya begitu mengamini dan menjiwai jargon luhur tersebut. Mereka enggan mundur walaupun jelas-jelas cacat integritas, moral, dan etika. Mereka lebih memilih dimundurkan dari daripada mengambil inisiatif mengundurkan diri dengan ksatria.

Lihat saja prilaku Bupati Garut Aceng Fikri yang tersandung permasalahan etika karena kasus skandal pernikahan kilatnya dengan gadis di bawah umur. Aceng Fikri tetap bersikukuh bahwa kasus yang menimpa dirinya merupakan permasalahan pribadi yang sengaja dibawa oleh pihak-pihak tertentu ke ranah politik. Andaikan benar bahwa memang ada semacam konspirasi untuk menjegal sang bupati, tapi substansi pernikahan kilat Aceng Fikri tetap sebuah fakta tercela yang terbukti membuatnya kehilangan simpati dari masyarakat Garut. Singkat kata, sampai hari Aceng Fikri tetap menjabat sebagai Bupati di Garut sana.

Andi Alfian Mallarangngeng dan Aceng Fikri menjadi contoh gamblang perilaku para pemimpin di tanah air. Pemimpin itu bukan semata –mata masalah posisi dan jabatan tapi seyogyanya memberikan pengaruh positif bagi masyarakat. Masyarakat perlu mendapatkan pendidikan etika berpolitik dan berdemokrasi yang baik. Terbukti bersalah atau tidaknya Andi itu masalah lain. Tapi keputusan mundur yang diambilnya meninggalkan teladan berpolitik bagi kita semua. Jauh lebih bermakna daripada kengototan seorang Aceng Fikri yang terlihat begitu kemaruk akan kekuasaan.

Senin, 20 Agustus 2012

Catatan Lebaran Tahun Ini

Meskipun bukan muslim, keluarga mertua saya sudah bersiap dengan pelbagai hidangan khas Lebaran. Ada opor ayam, ketupat, dan beraneka macam kue-kue. Kami sekeluarga memang Kristen, tapi satu hal yang pasti bahwa suasana Lebaran pun turut mempengaruhi keluarga kami.

Seperti halnya pada malam Natal, kami juga turut bergembira di malam takbiran. Suasana riuh rendah gemuruh takbir dari masjid-masjid, mushalla, maupun surau yang berpadu dengan dentuman petasan dan kembang api benar-benar memeriahkan suasana. Semua orang bersukacita. Tua, muda, besar, kecil, semuanya larut dalam kegembiraan hari kemenangan. Kami memang bukan muslim, tapi ada kegembiraan yang terpancar di hati kami. Kami turut gembira karena saudara-saudara kami tengah bergembira. Meskipun berbeda iman, kegembiraan mereka juga turut kami rasakan.

Indahnya kebersamaan. Itulah risalah sederhana yang menjadi  tema sentral dalam kehidupan pluralisme. Bangsa ini bermacam-macam. Dari dulu memang sudah begitu. Bahkan sesama muslim pun juga memiliki pandangan teologi yang berbeda. Indonesia memang harus bersatu tapi tidak perlu lah kita menghilangkan kebhinekaan yang ada. Teman saya yang muslim pernah bilang bahwa sejak semula memang Allah SWT menciptakan manusia itu berbeda-beda. Jadi kalau begitu, kebhinekaan Indonesia memang sesuai dengan isi hati Tuhan, bukan?

Hidup di tengah bangsa yang majemuk memang mengharuskan kita untuk bertoleransi.  Saya yang mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, tidak boleh jadi galau bila ada orang yang bilang bahwa Wisnu atau Siwa adalah Dewa yang Agung. Pihak-pihak yang percaya bahwa  tiada Tuhan selain Allah juga nggak boleh ngamuk-ngamuk bila ada orang yang menegaskan bahwa ada lho Tuhan selain Allah.

Umat Katolik juga harus mengerti bila saat misa siang di gereja yang seharusnya khidmat dan tenang tiba-tiba diselingi oleh suara bedug dan adzan dari masjid yang jaraknya tidak seberapa jauh. Muslim yang tinggal di Bali pun juga harus tepa selira saat momen Nyepi tiba dan seharusnya para pengunjung Borobodur juga tidak boleh iseng terhadap stupa dan patung Sidharta yang ada di sana.
Hidup dalam kebhinekaan bukan berarti menghilangkan akidah yang kita percaya. Harus tetap ada sisi khas dalam diri kita masing-masing yang harus kita pertahankan. Kita tidak perlu menjadi orang lain atas nama pluralisme untuk sekadar menyenangkan hati teman yang kebetulan berbeda mahzab dengan kita. Tahun ini, Idul Fitri jatuh bertepatan di hari Minggu. Yang berlebaran silahkan melaksanakan shalat Id, sedangkan yang bertuhankan Yesus tetap melakukan ibadah di di gereja.



So, hidup dalam pluralisme? Siapa takut ....
Selamat Idul Fitri bagi yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin.

Selasa, 08 Mei 2012

CHRISTOPHER DAN PAK IMAM


Pada suatu pagi, Christopher, salah seorang murid saya di kelas lima, datang menghampiri dengan wajah penuh penyesalan. Ia kelupaan membawa tas! Can you imagine that? Berangkat ke sekolah tapi lupa membawa tas beserta isinya: lupa membawa alat tulis, tidak membawa project, tanpa ada buku, termasuk juga lupa membawa botol minum. Murid bondho nekat mungkin ya seperti ini.

Di belahan Indonesia yang lain, fenomena bondho nekat saat bersekolah mungkin masih bisa dipahami. Keterbatasan ekomomi dan infrastruktur membuat sebagian siswa di republik ini terpaksa mengais ilmu pengetahuan dengan modal semangat saja. Berderet-deret tersiar kabar murid-murid Sekolah Dasar dari Papua, Nusa Tenggara Timur dan pedalaman Kalimantan dengan gigih berjuang demi memperoleh pendidikan yang berbudaya. Di Pulau Jawa saja, yang katanya pusat peradaban Indonesia, masih ada peristiwa miris seputar dunia pendidikan. Tentu kita masih ingat kasus para siswa di sebuah kabupaten di Jawa Barat yang nekat menyeberangi sungai ala Indiana Jones demi bisa sampai di sekolah. Tapi kasus Christopher ini masalah lain.

Saya sendiri heran kok kelupaannya bisa keterlaluan seperti ini. Ketika masih bersekolah dulu, beberapa kali memang saya kelupaan membawa perlatan sekolah. Tapi tidak pernah sekalipun saya lupa membawa tas.

Seharian penuh Christopher mengikuti proses belajar tanpa menggunakan buku, pensil, dan semacamnya. Dengan tegas saya melarangnya menggunakan telpon sekolah untuk menghubungi rumah agar bisa dikirimkan tas beserta isinya. Masalah kelupaan membawa “peralatan tempur” ke sekolah bukanlah hal yang pertama bagi anak muda ini. Selalu saja ada barang yang tertinggal. Kadang pensil, buku agenda, homework…..dan kali ini sudah mencapai puncaknya. Tas segedhe Gaban itu kok ya bisa-bisanya ketinggalan. Sebagian dari Anda mungkin ada yang tidak setuju dengan cara pendisiplinan yang saya terapkan. Namun satu hal yang pasti,  saat itu saya sedang berurusan dengan masalah kelupaan yang  sudah akut.

Christopher berasal dari keluarga berada. Ia terbiasa dilayani. Pagi itu, pembantunya sepertinya lupa menyiapkan tas bagi sang pangeran kecil.
“Sebenarnya yang bersekolah itu kamu apa pembantumu, Chris?” tanya saya pada Christopher.
“Tentu saja saya, Pak,” jawabnya sambil tersenyum malu.
“Lha, kok ya bukan kamu sendiri yang menyiapkan tas beserta isinya?” suara saya agak meninggi.
Christopher tetap tersenyum. Kali ini senyumnya agak berasa jenaka. Tidak seperti tadi yang bercampur dengan rasa bersalah. Sungguh saya tidak tega lagi untuk memarahinya. Sepanjang hari itu ia sudah cukup “tersiksa” mengikuti sesi belajar tanpa menggunakan alat bantu apapun.

Bicara tentang pendisiplinan murid, saya mempunyai pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Sewaktu SMP dulu, sekujur kaki saya pernah dipukuli guru matematika di depan kelas dengan menggunakan penggaris kayu gara-gara tidak bisa menyelesaikan sebuah persamaan matematika yang ada di papan tulis. Keringat deras bercucuran membasahi raga ini. Ada rasa gugup, malu, termasuk juga rasa takut. Saya bersyukur tidak ngompol di depan kelas waktu itu. Apakah soalnya selesai? Tidak…! Saya kembali ke bangku diiringi makian sang guru mengapa saya tidak seperti teman saya yang brilliant dari kelas lain yang kebetulan juga bernama Rudy.

Saya benci Pak Imam. Abdul Imam Maulana, demikian nama lengkap guru itu. Saya juga muak dibandingkan dengan siswa lain. Dan parahnya …mulai saat itu saya benci matematika! Tambah tidak masuk akal lagi, saya jadi benci semua nama orang yang ada unsur Imam-nya.

Suatu ketika saya mendengar berita bahwa guru matematika itu mengalami kecelakaan. Beliau diseruduk pick up di halaman sekolah. Meskipun tidak meninggal, tapi beliau mengalami cacat permanen. Oh yeaaah ….Tuhan memang maha adil. Mata ganti mata,  gigi ganti gigi, dan kaki di balas kaki. Rupanya keadilan sedang ditegakkan. Saya jadi punya banyak dasar Alkitab untuk menghakimi. Hehehe …siapa menabur angin ia akan menuai badai. Siapa yang pernah menghajar kaki dengan penggaris, kali ini ia mendapat bemper mobil.

Kok saya jadi kelihatan kejam, ya?
Tapi begitulah kenyataannya. Karena dendam, saya jadi bersukacita atas kemalangan orang lain.

Masalah Christopher segera ditindaklanjuti. Saya berikan beberapa tips praktis agar ia tidak lupa lagi, termasuk di antaranya menempelkan note kecil di cermin sebagai reminder. Saya berharap setiap Christopher bercermin, ia akan selalu diingatkan tentang beberapa hal yang perlu ia bawa atau perlu diselesaikan. Cara tersebut ternyata manjur. Semenjak saat itu Christopher sudah tidak lupa lagi. Tas, alat tulis, buku agenda, beserta dengan project-project semuanya lengkap dibawa setiap hari. Leganya ….satu lagi permasalahan siswa bisa diatasi. Senang rasanya bisa memberikan sumbangsih sederhana bagi kehidupan anak muda ini.

Saya sering tersenyum sendiri bila teringat kisah Christopher. Tuhan memang sering menggunakan cara yang unik, bahkan terkadang misterius untuk mengubah kehidupan anak-anak-Nya. I do really know that …!

Dua tahun lalu saya dapat kesempatan untuk merayakan Natal di kampung halaman saya di Pasuruan. Kesibukan yang super padat di Surabaya membuat saya jarang pulang. Senang rasanya bisa duduk bersama dengan jemaat lokal yang sederhana untuk merayakan kelahiran Tuhan. Bertemu kenalan lama sekalian bernostalgia. Sensasinya menyenangkan sekali.

Gedung Gereja kami yang sederhana dan tidak seberapa besar itu memang mendadak jadi penuh bila ada kebaktian Natal. Hawa dingin Desember sepertinya tinggal angin lalu saja.  Panas sekali di dalam gedung gereja. Tapi satu kenyataan yang pasti. Seluruh jemaat larut dalam sukacita Natal yang disediakan Tuhan bagi umat-Nya.

Ketika acara kebaktian selesai, saya melihat seseorang yang sepertinya  saya kenal. Oh my goodness…., bukankah ia Pak Imam. Sosok yang dulunya  saya kenal sebagai sosok sangar sekarang sudah menjadi renta dengan sebuah tongkat penyangga di sebelah kaki kanannya. Meskipun sorot matanya tetap tajam, namun ia bukan lagi seperti Pak Imam yang dulu. Kini beliau sudah tidak mengenali saya lagi. Namun hal itu tidak menjadi masalah besar buat saya. Dendam di hati ini juga sedah lama sirna terbawa waktu. Yang ada di hati hanya rasa iba melihat beliau dengan susah payah berjalan tertatih-tatih dibantu oleh seorang anaknya meninggalkan gedung gereja. Timotius Abdul Imam Maulana begitu nama beliau sekarang. Sudah semenjak tahun lalu beliau menerima Yesus sebagai Tuhan dan memutuskan untuk berjemaat di gereja ini.

Tuhan bekerja dengan cara yang misterius, bukan?


Selasa, 01 Mei 2012

TERSENYUM MENGHADAPI KEMATIAN

Kematian adalah suatu hal yang pasti. Semua orang dari segala abad pasti mengalaminya. Kebanyakan orang merasa ketakutan menghadapi maut. Sebagian lagi merasa tidak sreg membicarakannya. Saya sendiri merasa kematian adalah sebuah misteri. Meskipun yakin bahwa sesudah kematian terdapat kehidupan kekal, namun saya tetap merasa kurang nyaman bila memikirkannya.

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah merasa terpukul saat Papa meninggal dalam tidur di pagi hari. Sebuah serangan jantung mematikan membuat beliau tidak pernah bangun lagi. Cepat, bersih, tanpa merepotkan keluarga. Namun meskipun demikian kematian beliau yang elegan itu tetap membuat saya bersedih. Bila saya rindu beliau, saya masih sering mendengar lagu kesayangan papa: He Ain’t Heavy, He’s My Brother dari The Hollies. Tanpa terasa, air mata sudah membasahi pipi.

Di tengah malam, saya sering terjaga dari tidur. Diam-diam saya melihat dengan seksama wajah istri saya. Begitu damai dan rupawan. Bahkan di saat tidur pun ia masih terlihat cantik. Woow ….saya begitu diberkati Tuhan untuk yang satu ini. Namun sejurus kemudian saya menjadi sadar bahwa di kemudian hari nanti kami akan terpisahkan oleh kematian. Bisa saya yang meninggal duluan atau mungkin juga dia yang dipanggil pulang oleh Bapa terlebih dulu. Pikiran saya suka menerawang bila memikirkannya. Namun kesimpulannya sedehana: tidak nyaman.

Yesus sendiri pernah beberapa kali memberitahu murid-murid-Nya bahwa Dia akan mengalami kematian tragis di Yerusalem. Respon murid-murid juga senada dengan kebanyakan dari kita. Mereka cenderung tidak menghiraukan atau bahkan menganggap Yesus sedang ngelantur. Dalam sebuah kesempatan, Petrus bahkan pernah dengan tegas menyatakan bahwa Yesus tidak akan mati di Yerusalem. Bila perlu, ia sendiri siap mati demi Yesus. Akhir dari kisah tersebut saya yakin setiap kita sudah mengetahuinya. Yesus mati di kayu salib dan Petrus lari terbirit-birit entah ke mana setelah terlebih dulu menyangkal Yesus.

Saya sendiri membayangkan, Tuhan Semesta Alam dari tahta-Nya menyaksikan adegan demi adegan kelahiran dan kematian anak manusia. Semuanya terekam jelas dari CCTV ilahi. Semuanya harus terjadi dan sangat normal. Maut harus dihadapi, tidak perduli anak manusia itu siap atau tidak. Apakah Tuhan men-design kematian? Saya rasa tidak. Maut muncul akibat dosa manusia dan Yesus datang untuk mencabut kutukan kematian tersebut. Jadi kita seharusnya tidak perlu khawatir lagi akan kematian jasmani. Bila maut datang, sambutlah dengan senyuman karena kita tahu siapa yang tengah menanti dengan tangan penuh kasih di ujung sana.

Saya sadar bahwa cukup sukar menjelaskan kematian di hadapan anak-anak. Perlu pemilihan kata yang tepat untuk bisa mengartikulasikannya dengan elok di hadapan mereka. Biasanya seorang anak akan merasa kebingungan bila ada salah satu dari anggota keluarganya yang meninggal. Ia tidak mengerti mengapa saat itu banyak orang yang bersedih. Bahkan ada pula yang sampai menangis. Jika saat itu hadir menerpa sang anak, segera hampiri dia, tenangkan jiwanya, kecup keningnya, dan sadarilah bahwa sebenarnya ia sama bersedihnya dengan kita. Hanya saja ia tidak tahu bagaimana harus menunjukkannya.

Ketika Zakheus meninggal, Yesus dan murid-muridnya datang melayat. Suasana kesedihan begitu terasa waktu itu dan Alkitab dengan indahnya merekam sebuah mozaik mengesankan dalam sebuah kalimat berikut: “Maka menangislah Yesus” (Yoh. 11:35). Bagi saya ayat super pendek itu  mampu menghadirkan nuansa indah di relung hati bahwa betapa Tuhan dapat sangat mengerti sensasi kesedihan yang muncul akibat kematian. Ia tidak jaim sambil berkata dengan angkuh bahwa di tangan-Nyalah terletak kehidupan dan kematian. Manusia tidak perlu protes. Diam dan nikmati saja. Tidak! Alkitab benar-benar menulis bahwa Yesus pun menangis.

Saya pernah hadir di rumah sakit untuk menjenguk salah seorang mantan murid saya yang tengah berjuang sengit melawan kanker. Ia sudah kehilangan kesadaran semenjak beberapa hari yang lalu. Semua telah dilakukan. Keluarga sudah pasrah, semua pendoa sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dalam tangis tertahan saya hanya bisa berkata lirih, “Tuhan Yesus, seandainya Engkau hadir di sini?”

Tidak ada kesembuhan. Gadis cilik itu meninggal. Agaknya Tuhan sedang mengajar kepada kami tentang arti kehidupan lewat kematian. Hidup itu benar-benar sebuah anugrah dan kematian pun hanya sebuah pintu gerbang menuju kehidupan baru yang mempunyai dimensi kekekalan. Jika Saudara mampu mengerti akan hal ini, tentu Anda akan setuju dengan saya bahwa begitu indah kematian orang-orang yang dikasihiNya.

Jadi tetaplah tersenyum walaupun ajal sudah mengintip di depan pintu.

SAAT GURU NONTON THE RAID


Ya ampun...! Tontonan apa ini. Darah muncrat di mana-mana, isi kepala berhamburan karena ditembak dari jarak dekat, leher tertusuk pecahan neon lampu, dentuman shotgun yang terdengar angkuh, berpadu dengan eksotisme seni bela diri ala anak negeri. Wooow …. Itulah gambaran tentang film The Raid yang beberapa waktu lalu saya tonton. Meskipun miskin ide cerita, namun katanya film ini berhasil menembus box office di negeri Paman Sam sana.
Saya ogah berdebat apakah film ini bagus apa tidak. Rekan saya di kantor dengan bersemangat menyatakan film ini bagus dan spektakuler. Tapi bagi subjektivitas saya, film ini horror banget dan yang pasti film ini bukan untuk konsumsi anak-anak sekolah. Jangankan anak-anak, istri saya saja nyaris muntah di studio XXI saat menyaksikan film ini. 
Sebenarnya pada awalnya saya tidak tertarik menonton film yang disutradarai oleh Gareth Huw Evans ini. Namun harus diakui bahwa saya terpengaruh dengan promosi dahsyat dari pihak pembuat film. Dikatakan bahwa film ini merupakan karya revolusioner orang Indonesia yang mampu meraih pelbagai perhargaan dunia perfilman dari luar negeri. Untuk membuktikannya ...let’s go to the movie. Hasilnya lumayan parah. Jadilah saya dan istri jadi korban marketing globalisasi.
The Raid bukan tontonan anak kecil. Tapi masih ada juga orang tua yang membawa anaknya yang masih kecil nonton film tersebut. Saya sendiri heran, nilai moral apa yang dapat diceritakan sang orang tua pada anak tersebut. Tapi memang begitulah kenyataannya. Banyak orang tua dan guru yang tidak terlalu ambil pusing tentang film yang ditonton oleh para buah hatinya. Yang penting sang anak senang, habis perkara.
Dr. Andar Ismail dalam bukunya Selamat Hidup Rukun (1982) menjelaskan bahwa pada zaman Perjanjian Lama, orang Yahudi beranggapan bahwa manusia baru bisa dididik saat berusia empat tahun. Menurut mereka anak usia setahun belum bisa belajar apa-apa karena ia ibarat raja kecil yang pekerjaannya hanya tidur sepanjang hari. Demikian juga anak berumur dua atau tiga tahun. Menurut orang Yahudi, ia laksana babi jorok yang tangannya ingin memegang segala sesuatu, lalu menjilat apa saja yang bisa dipegangnya.
Oleh sebab itu, menurut orang Yahudi, pendidikan baru bisa dimulai pada usia empat tahun saat seorang anak sudah mulai bisa berbicara dengan baik. Credo pertama yang biasa diajarkan oleh orang tua Yahudi adalah pernyataan yang berbunyi, “Dengarlah hai orang Israel. Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6: 4 – 5).
Begitu disiplinnya orang Yahudi mendidik anak-anak mereka, serasa berbanding terbalik dengan cara kita mendidik anak. Saat ini anak-anak dengan sangat mudahnya dapat bercumbu dengan pelbagai tayangan yang minim nilai edukasinya. Kemajuan teknologi agaknya telah mampu membawa mereka berlari lebih cepat dari orang tua dan para gurunya. Mereka dengan mudah mengakses informasi via internet, menikmati manga Jepang, menonton film melalui rupa-rupa media, dan melakukan proses imitasi dan dan duplikasi terhadap nilai-nilai baru yang mereka anggap baik.
The Raid memang salah satu contoh film Indonesia yang mampu berbicara lantang di luar sana. Namun saya merasa orang tua perlu berhati-hati dalam membawa anak-anaknya menyaksikan film-film dengan genre seperti ini. Memang harus diakui bahwa republik ini miskin tayangan hiburan yang berkualitas. Tidak banyak teladan dan contoh yang dapat menjadi model strategis bagi anak-anak. Tapi tentu saja kita sebagai orang tua tidak boleh menyerah begitu saja, bukan?
Kita harus berani repot dalam mengurusi anak-anak. Bila selama ini sudah merasa repot, maka kita harus berkomitmen untuk lebih repot lagi dalam memperhatikan anak-anak. Memang akan sangat menguras uang, energi, dan waktu. Namun demi anak-anak, semuanya tentu akan kita lakukan.
Guru pun seyogyanya tidak boleh anti nonton film. Tontonlah banyak film agar kita bisa menjadikannya batu loncatan untuk membangun komunikasi dengan para siswa. The Avenger, Transformer, Amazing Spiderman, blah blah blah ……Nikmati juga SMA*SH, Suju, Cherrybelle, Detective Conan, Doraemon, Naruto sampai Shinchan sekalipun. Saya mengerti sekali bahwa sebagian kita akan terasa kurang nyaman saat menikmati menu yang barusan saya tawarkan. Tapin sadarilah, kita yang harus masuk ke dunia anak-anak/remaja karena mereka tidak akan bisa mengerti betapa jadul-nya dunia kita.
Mau, kan?

Minggu, 29 April 2012

LIFE BEGINS AT FORTY


Pada tahun 1930-an, Walter Pitkin menulis sebuah buku best seller berjudul Life Begins at Forty. Buku tersebut mendapat sambutan positif masyarakat Amerika Serikat karena membuka cara pandang mereka tentang kehidupan. Hidup seseorang tidak berhenti pada usia 40 tapi sejatinya baru saja dimulai. Kehidupan mulai mapan, sudah punya anak, rumah ada, dan koneksi mulai terbentuk secara massive. Pendek kata, rona keberhasilan mulai membuncah ke permukaan.

Bagi banyak orang, sang guru pun kebanyakan mulai terlihat berwibawa dan berkharisma pada usia 40 –an. Segala perkataannya mulai terasa berdentum kencang di sanubari pendengarnya bila dibandingkan dengan ceramah seorang guru muda yang baru lulus kuliah pendidikan. Meskipun esensinya nisbi, namun orang lebih suka mendengar bunga-bunga teori kalimat berwibawa dari seorang guru yang berpengalaman ketimbang pengajaran penuh inovasi dari seorang guru belia.

Guru muda sering mendapat perlakuan minor. Bukan karena kemampuannya mengajar tapi pada usia yang melekat padanya. Dahulu saya bahkan sempat dipanggil Mas Guru oleh seorang wali murid saat program tatap muka antara orang tua dan guru berlangsung. Sungguh ...! Masukan yang diberikan oleh wali murid tersebut memang mengandung kebenaran, namun saya geli juga saat beliau memanggil saya dengan sebutan seperti itu.

Dua millennium yang lalu, ada seorang guru berusia 30 tahunan yang mencoba meniti karir di tengah masyarakat Yahudi. Namanya adalah Yesus. Pengajarannya  sederhana namun mendobrak kemunafikan. Perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan sangat kreatif, inovatif, dan penuh solusi. Ia dupuja massa melebihi seorang idol dari sebuah ajang pencarian bakat, namun dicela banyak orang. Bukan karena Ia cacat moral tapi karena Ia masih berusia muda. “Siapakah Dia ini? Ngomongnya fals banget. Bukankah Ia ini anak seorang tukang kayu?” begitu pikir para pengajar Yahudi yang pro status quo pada waktu itu.

Kita hidup di tengah masyarakat yang mirip dengan masyarakat di mana Yesus pernah tinggal berdiam. Sebuah masyarakat yang masih menganggap senioritas lebih penting dari dari sebuah kretivitas. Bila hal ini tidak segera dibenahi, maka guru-guru muda akan tetap terkungkung dalam nuansa keminderan tak bertepi sambil menanti kharisma dan kewibawaan akan datang menghampiri saat usia mulai bertambah. Akahkah seperti itu? Jika hal itu benar, betapa malangnya Indonesia.

Sejatinya bangsa ini memerlukan guru-guru yang berani berkata benar. Guru-guru yang tidak tinggal diam saat contekan massal Ujian Nasional menggelora. Guru-guru yang tidak rela menukar idealisme kebenaran di bawah ketiak kepentingan sesaat.

Saya pikir bukanlah sebuah kebetulan bahwa Yesus mengambil rupa seorang muda saat berkarya di muka bumi ini. Orang muda itu sumbernya kreativitas dan energi. Jadi sangatlah mengherankan bila kita harus menunggu sampai berusia 40 tahun baru kemudian bisa mengatakan bahwa kehidupan baru saja dimulai. Kehidupan adalah saat ini.

Orang bijak pernah mengatakan bahwa masa lalu adalah sejarah dan masa depan adalah sebuah misteri, namun hari ini adalah sebuah anugrah. Bila kita sebagai guru sadar bahwa hari ini adalah anugrah yang Tuhan berikan buat kita untuk berkarya mewarnai dunia, mengapakah kita masih mengajar dengan asal-asalan?