Senin, 13 Februari 2012

BERUBAH …? SIAPA TAKUT?

Suka atau tidak, hidup itu memang perlu perubahan. Tidak selalu menyenangkan memang, tapi untuk menuju kemajuan, kita mutlak perlu berubah. Tanpa perubahan, kehidupan menjadi statis dan kurang berwarna. Biasanya sih yang sering bersuara minor terhadap perubahan adalah pihak yang terbiasa akrab dengan status quo. Mereka enggan berubah karena sudah terlanjur nyaman dalam zona aman. Padahal bagi saya aneh sekali kehidupan zonder perubahan. Alih-alih kehidupan, wong saban hari saja menu makan dan pilihan busana juga perlu berubah.

Ongkos perubahan tidaklah murah. Efek yang ditimbulkannya pun sering membuat banyak orang mengelus dada karena perubahan selalu bersinggungan dengan pola kebiasaan lama. Keduanya tidak bisa berjalan beriringan, melainkan selalu berusaha meniadakan satu dengan yang lain. Seseorang tidak bisa mengatakan dirinya telah berubah apabila masih setia melakukan kebiasaan yang lama. Itulah sebabnya banyak orang merasa bahwa perubahan adalah sebuah ancaman karena ada kemungkinan segala hal bisa berubah lebih buruk. Tapi bagi mereka yang berani dan percaya diri, perubahan adalah momen menyenangkan dan inspiratif karena terdapat kesempatan untuk membuat segala sesuatu menjadi lebih baik.

Pola pikir seorang pengajar juga hendaknya tidak alergi terhadap perubahan. Sebenarnya kita ini (baca: para orang tua dan guru) adalah produk lama hasil pola pendidikan masa lalu. Namun hebatnya, kita memberanikan diri untuk tampil sebagai pendidik para insan pengubah masa depan. Memang kita tidak punya pilihan. Anak-anak perlu figur yang dapat digugu lan ditiru, figur yang didengarkan  dan dapat dijadikan suri teladan. Namur kita sering lupa bahwa ada semacam mata rantai yang terputus antara kita dengan anak-anak. Sesuatu yang sering membuat kita nggak nyambung dengan mereka. Dan hal itu tidak aneh. Kenapa? Karena kita memang sisa stock lama sedangkan mereka adalah new brand yang dipenuhi dengan pelbagai gairah baru yang mungkin sulit untuk kita pahami. Mata rantai yang terputus itu akan tersambung bila kita mau berubah.

Perubahan itu membutuhkan kerendahan hati. Penyakit utama para guru adalah merasa sudah mengetahui banyak hal. Sabda yang keluar dari mulut guru bagaikan harga mati yang tidak dapat ditawar lagi. Selalu benar dan nisbi kesalahan. Padahal dari para muridlah para guru dapat belajar lebih banyak lagi. Berhadapan dengan seorang murid memungkinkan sang guru untuk bisa belajar untuk menjadi pembelajar yang baik. Sang guru tidaklah lebih pintar dari sang murid. Guru hanya tahu lebih dulu.

Murid bukanlah flashdisc kosong yang siap kita isi dengan rupa-rupa pengetahuan. Salah besar bila mengibaratkan anak bak kertas putih yang kosong yang siap untuk ditulis dengan pelbagai macam tulisan. Murid bukanlah robot melainkan insan mulia ciptaan Sang Maha Kudus yang sudah memuat beberapa info mentah dan potensi hulu ledak yang kekuatanya mungkin tidak pernah kita duga sebelumnya. Menjadi tugas kita sebagai guru untuk dapat memaksimalkan potensi itu agar dapat bercahaya demi kemuliaan-Nya. Apabila untuk merealisasikannya dibutuhkan perubahan di pihak kita, akankah kita sebagai guru masih keberatan?

Progress is impossible without change, and those cannot change their minds cannot change everything. (George Bernard Shaw)

Kamis, 09 Februari 2012

BERANI TAMPIL BEDA


“Allah itu kreatif!” begitu pernyataan mentor rohani saya dulu ketika saya masih remaja. Pernyataan tersebut terus menjadi inspirasi buat saya selama bertahun-tahun, melewati dinamika kehidupan yang sering meluncur cepat seperti rollier coaster, serta membantu saya untuk memahami skenario kehidupan yang Ia tetapkan buat saya.

Saya juga sering memosisikan statement di atas dalam menghadapi keberagaman para siswa. Semakin dalam saya mengetahui dan masuk ke dalam bingkai terdalam kepribadian siswa, semakin saya sadar dan kagum bahwa Allah kita begitu kreatif. Coba dibayangkan, bagaimana frustasinya saya di kelas bila para siswa berwajah sama semua? Atau bahkan sifat serta kemauan mereka juga sama. Jika memang seperti itu keadaanya, kelas tidaklah menjadi kawah candradimuka, tempat bagi sertiap insannya dapat saling menajamkan, tapi lebih mirip area seram tempat para zombie bersemayam.

Puji Tuhan ….
Allah tidak menciptakan kita sebagai hasil mass production yang cenderung sama dalam kemasan dan kualitasnya, tetapi kita adalah insan unik dan tiada duanya. Insan yang siap memainkan peranan beragam dalam kehidupan sosialnya. Sampai di sini saya mulai menyadari bahwa Allah kita mencintai keberagaman. Keberagamanlah yang membuat hidup kita lebih indah, bergairah, dan bermakna.

Dalam konteks yang lebih luas, kita patut bersyukur berada di dalam sebuah negara yang begitu hebat sisi pluralismenya. Adalah sebuah anugerah maha dahsyat ketika mendapati kebhinekaan Indonesia yang sangat semarak dan egaliter, sehingga merupakan hal yang patut disayangkan bila kemudian muncul wacana dari pihak-pihak tertentu yang mencoba membawa bangsa ini tunduk ke dalam keseragaman yang dipaksakan di bawah panji kepercayaan tertentu.

Saya pikir, biarlah bangsa ini berbahagia dengan kebhinekaannya.

Saya juga berpikir, biarlah setiap siswa juga patut berbangga dengan keunikannya masing-masing sambil menyadari bahwa hal itu merupakan divine favor yang Allah berikan. Kita sebagai orang tua sering kali mengukur kecerdasan siswa berdasarkan takaran yang melekat pada diri kita. Bila kita diberkati dengan kemampuan luar biasa untuk mengutak-utik angka misalnya, biasanya, kita akan lebih nyaman bila anak kita juga memiliki respon serupa di bidang yang sama. Kita menjadi lupa bahwa mungkin saja takaran yang Tuhan berikan kepada anak tersebut berbeda. Sanggupkah kita sebagai orang tua menyikapinya bila hal itu tersebut menghampiri kita?

So, biarlah anak-anak menjadi diri mereka sendiri.

Momen Natal selalu identik dengan pohon terang yang indah bukan karena keseragaman hiasannya, melainkan dari pelbagai macam pernak-pernik asesoris yang dikenakannya. Natal adalah hari di mana Yesus Tuhan datang ke dalam dunia yang dipenuhi dengan manusia yang sangat beragam. Puji Tuhan, Ia mencintai keberagaman dan sama sekali tidak alergi terhadap perbedaan. Buktinya, Anda dan saya diciptakan berbeda, bukan?

Rabu, 01 Juni 2011

Spirit Kertanegara dalam Pelukan Ujung Galuh

Nenek moyang kita benar-benar makhluk yang pemberani dan luar biasa. Tidak percaya? Simak nukilan kisah sejarah berikut ini

Eksistensi bangsa yang kelihatan rapuh bernama Indonesia ini merupakan kelanjutan dari kerajaan yang pernah ada di muka bumi pertiwi ratusan tahun yang lampau, termasuk di antaranya adalah Kerajaan Singhasari. Keberanian dan ketegasan Raja Kertanegara dari Singhasari itu tercatat dengan rapi, baik dalam sumber-sumber sejarah Tiongkok maupun Indonesia. Kitab Pararaton dan Kitab Negara Kertagama semua mendokumentasikan peristiwa yang mungkin pada zaman modern ini tak akan pernah terjadi. Raja Kertanegara dari Singhasari berani menantang Kaisar Kubilai Khan dari kekaisaran Mongol yang berpusat di Tiongkok. Tantangan tersebut ibarat Pemerintah Indonesia melawan Negara Paman Sam dalam zaman modern.

Peristiwa itu terjadi pada 1289 ketika suatu hari Kerajaan Singhasari didatangi utusan khusus Mongol bernama Meng Khi. Kehadiran utusan itu semula diterima dengan baik, sebagaimana misi diplomatik lain yang tiba di istana. Normalnya seorang diplomat pada zaman itu adalah datang dengan membawa cenderamata berharga lalu menyampaikan surat dari rajanya, semacam letter of credential dalam tata hubungan diplomatik sekarang ini. Tapi, duta besar Meng Khi tersebut, karena merasa utusan dari negara superpower, berlagak jumawa dan petita petiti. Memang, misa yang dibawa menunjukkan arogansi kekaisaran Mongol. Kaisar Kubilai Khan menuntut Kertanegara dan kerajaannya untuk tunduk di bawah kekuasaan Mongol. Kertanegara diminta berangkat ke Tiongkok dengan membawa upeti dalam jumlah besar sebagai tanda ketundukan kerajaannya kepada negara superpower itu.

Pada zaman itu tak ada satu bangsa pun yang sanggup menghadapi pasukan Mongol. Pasukan kavalerinya sudah berhasil menaklukkan Hungaria, Polandia, Rusia, Baghdad, seluruh Timur Tengah, sebagian India, seluruh Asia Tengah, Korea, dan sebagian Asia Tenggara. Kekaisaran Mongol itu berhasil membangun imperium terbesar dalam sejarah planet ini, melebihi Julius Caesar, Alexander Agung, imperium Islam atau raja mana pun, baik dari Eropa atau Asia.


W.H. Barlett dalam bukunya yang berjudul Mongols, From Genghis Khan to Tamerlane, menyatakan bahwa Kertanegara melakukan tindakan ionovativ dalam memperlakukan Meng Khi. Yakni memotong terlinga utusan Mongol tersebut dan menulis jawaban sikapnya dengan menato dahi utusan yang pongah itu. Bandingkan dengan tindakan Leonidas dari Spartan dalam memperlakukan utusan Xerxes yang datang mengultimatum negerinya dan direkam dengan baik dalam film 300. Nggak jauh beda, kan?

Benar juga, tindakan Kertanegara tersebut mengundang kemarahan luar biasa Kaisar Kubilai Khan. Sebuah armada besar disiapkan untuk menghukum Singhasari. Pasukan berkekuatan dua tumen (nama satuan setingkat divisi) dikirim. Pasukan itu dipimpin tiga jenderal senior. Yakni seorang jenderal Mongol bernama Shih Pe, seorang jenderal dari Suku Uighur Ikhe Mase, dan seorang jenderal Tiongkok bernama Kao Hsing.

Kertangera tidak tinggal diam setelah kepulangan meng Khi. Dia merasa sudah pasti akan ada invasi dari negeri di seberang lautan. Karena itu, dia mengirimkan pasukan bersandi Pamalayu yang dipimpin oleh Mahesa (sumber lain: Kebo) Anabrang dan ditempatkan di kawasan Palembang untuk mengawasi pergerakan pasukan Mongol yang diprediksi akan transit kawasan Melayu. Ternyata Kertanegara salah perhitungan. Pertama, ketika sebagian besar pasukan Singhasari diberangkatkan untuk mencegar invasi pasukan Mongol, Adipati Jayakatwang yang masih memendam dendam karena moyangnya dikalahkan Ken Arok, pendiri Kerajaan Singhasari, melakukan kudeta yang akhirnya menewaskan Kertanegara. Kedua, pasukan Mongol ternyata tidak transit di kawasan Melayu tapi langsung bablas menuju pelabuhan Tuban yang waktu itu merupakan salah satu pelabuhan penting di pantai utara Pulau Jawa.

Sebagaimana yang tertulis dalam buku sejarah kita, Pasukan Mongol gagal menghukum Kertanegara. Tapi mereka malah dimanfaatkan Raden Wijayat untuk menumpas pasukan Jayakatwang. Pasukan Mongol yang berjumlah 20.000 orang itu kabarnya bisa mengalahkan 100.000 anggota pasukan Daha (Jayakatwang) dalam waktu sehari saja. Maklum, meskipun jumlahnya sedikit, persenjataannya sudah lebih maju. Setelah sukses mengalahkan Daha, giliran pasukan Raden Wijaya menghajar pasukan Mongol, sehingga lari kocar-kacir ke Ujung Galuh. Di kota yang kemudian berganti nama menjadi Surabaya itulah pada 31 Mei 1293 pasukan Mongol dibinasakan pasukan Raden Wijaya. Sebagian menyerah dan sisanya melarikan diri melalui Pelabuhan Tuban.

Saat kembali ke negaranya, para komandan invasi tersebut mendapatkan hubungan cambuk dari Kubilai Khan. Hanya Ike Masu, jenderal asal Uighur yang tidak dihukum sebab dia sudah memperingatkan kemungkinan adanya serangan dari pasukan Wijaya. Entah karena taktik yang jitu atau keteledoran pasukan Mongol, kenyataannya mereka terusir dari Ujung Galuh. Wajar kalau kemenangan penting tersebut dirayakan sebagai hari jadi Kota Surabaya.

NB: Thanks for Djoko Soesilo...(Jawa Pos, 1 Juni 2011)

Minggu, 22 Mei 2011

HABIS NURDIN TERBITLAH GELAP

Kongres Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) berakhir deadlock atau tanpa keputusan. Ketua Normalisasi (KN) Agum Gumelar, sekaligus ketua kongres menutup acara pemilihan ketua umum PSSI tersebut karena suasana tidak kondusif.

Dari keseluruhan kongres yang disiarkan langsung televisi swasta, kericuhan terjadi berawal dari sejumlah individu yang mengatasnamakan Kelompok 78. Mereka ngotot agar Komisi Banding menjelaskan alasan pencoretan kedua jagoan mereka George Toisutta (GT) dan Arifin Panigoro (AP).

Pertanyaannya apakah hanya George-Arifin yang sanggup memajukan sepakbola Indonesia? Apakah tidak ada anak bangsa lainnya yang benar-benar memiliki kualitas lebih baik dibandingkan George-Arifin? Dua pertanyaan ini pasti tidak bisa dijawab mereka yang mengusung George-Arifin.

Jauh sebelum kongres, Agum pernah memastikan bahwa George-Arifin legowo dengan keputusan Badan Sepakbola Dunia (FIFA). Pernyataan itu diterima Agum setelah bertemu dengan keduanya. Pertanyaan besar pun muncul. George-Arifin sudah legowo dengan keputusan FIFA, tapi mengapa Kelompok 78 begitu ngotot meminta keduanya diloloskan sebagai calon ketua umum?

Para pendukung George-Arifin seharusnya juga menerima dengan lapang dada. Apalagi gugatan yang dilayangkan kelompok ini terhadap FIFA ditolak mentah-mentah oleh Badan Arbitrase Olahraga (CAS).

CAS tidak punya yurisdiksi menangani gugatan kubu Toisutta-Panigoro. Sesuai ketentuan Pasal R-37 Kode Arbitrase Olahraga, proses gugatan dihentikan dan dihapus dari daftar gugatan.

Dalam kongres, Agum juga sudah memngikuti keinginan sebagian besar peserta dengan meminta penjelasan Direktur Pengembangan dan Keanggotaan FIFA Thierry Regennas seputar pencoretan George-Arifin. Kedua anak bangsa ini dicoret oleh FIFA karena dinilai terlibat dalam bergulirnya Liga Premier Indonesia (LPI). Liga ini tidak pernah mendapat pengakuan PSSI. Padahal, tugas Regennas hanya pemantau kongres yang tidak memiliki wewenang berkomentar.

Tapi apa yang terjadi. Kelompok 78 tetap ingin mendengarkan alasan Komite Banding dan artinya kembali ke masa lalu. Apakah ada agenda khusus terkait ngototnya Kelompok 78 dalam kongres.

Bila memiliki hati nurani, Kelompok 78 harusnya malu. Secara langsung mereka juga yang membuat PSSI hancur lebur seperti ini. Mereka yang bersuara lantang agar Ketua Umum PSSI periode lalu, Nurdin Halid meletakkan jabatannya. Aksi ini tentu bernuansa pesanan segelintir orang.

Mereka kembali membuat kegaduhan saat berlangsungnya kongres. Tanpa alasan mendasar mereka tetap Komite Banding menjelaskan secara detil alasan pencoretan Goerge-Arifin. Saat ini, tidak ada agenda untuk meminta Komite Banding memberikan penjelasan. Agenda kongres hanya memiliki pengurus yang baru.

Berbagai langkah yang sudah dilakukan Agum selama kongres ternyata tidak membuat kehendak Kelompok 78 reda. Mereka tetap melayangkan interupsi berbau protes dengan suara keras sekaligus memaki-maki Agum di depan pemantau FIFA dan AFC. Situasi semakin tidak terkontrol dan membuat Agum menghentikan kongres.

Bayangkan kongres sudah berjalan selama tujuh jam. namun tidak ada satu pun agenda yang dijalankan. Publik Indonesia juga melihat bagaimana para aktor Kelompok 78 bertahan dengan kehendaknya. Seharusnya, Kelompok 78 yang mengikuti FIFA, bukan sebaliknya.

Kini bangsa Indonesia tengah menunggu keputusan FIFA terkait kongres yang deadlock. Kabarnya keputusan FIFA terkait hal itu akan diputuskan akhir Mei ini. Satu hal terburuk yang bakal terjadi adalah sanksi larangan bertanding di pentas internasional bagi sepakbola Indonesia.

Bila sanksi ini yang diputuskan FIFA, maka menjadi kehancuran bagi sepakbola Indonesia. Kehancuran bagi pemain, kehancuran bagi pembinaan, kehancuran publik sepakbola Indonesia. Mungkin bukan kehancuran bagi kelompok yang membuat PSSI hancur. Ini tidak akan terjadi bila semua pihak, terutama Kelompok 78 tidak memaksakan kehendaknya.

Bila PSSI dihukum, apakah kelompok itu bersedia menanggung beban hidup ribuan pemain yang hanya mengandalkan mata pencarian dari sepakbola. Sungguh ironis dengan apa yang terjadi saat ini. Seharusnya semua pihak mengedepankan hati nurani, bukan kebengisan. Kebengisan dalam hal ini adalah memaksakan kehendak yang secara hukum tidak bisa dipertanggungjawabkan.



Sekarang mari kita berdoa agar FIFA tidak menjatuhkan sanksi kepada PSSI karena tidak adanya hati nurani sekelompok orang yang mengaku pengurus sepakbola.... Amin.

http://suar.okezone.com/read/2011/05/23/59/459881/kebengisan-ancam-pssi

Senin, 16 Mei 2011

TEUKU UMAR

Ia dilahirkan pada tahun 1854 (tanggal dan bulannya tidak tercatat) di Meulaboh, Aceh Barat, Indonesia. Ia merupakan salah seorang pahlawan nasional yang pernah memimpin perang gerilya di Aceh sejak tahun 1873 hingga tahun 1899. Kakek Teuku Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makdum Sati yang pernah berjasa terhadap Sultan Aceh. Datuk Makdum Sati mempunyai dua orang putra, yaitu Nantan Setia dan Achmad Mahmud. Teuku Achmad Mahmud merupakan bapak Teuku Umar.
Ketika perang aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru menginjak19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian dilanjukan ke Aceh Barat. Pada umur ini, Teuku Umar juga sudah diangkat sebagai keuchik (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.

Kepribadiaan Teuku Umar sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Ia juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan. Teuku Umar tidak pernah mendapakan pendidikan formal. Meski demikian, ia mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas, dan pemberani.

Pernikahan Teuku Umar tidak sekali dilakukan. Ketika umurnya sudah menginjak usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Sejak saat itu, ia mulai menggunakan gelar Teuku. Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dien, puteri pamannya. Sebenarnya Cut Nyak Dien sudah mempunyai suami (Teuku Ibrahim Lamnga) tapi telah meninggal dunia pada Juni 1978 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun. Setelah itu, Cut Nyak Dien bertemu dan jatuh cinta dengan Teuku Umar. Keduanya kemudian berjuang bersama melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda di Krueng. Hasil perkawinan keduanya adalah anak perempuan bernama Cut Gambang yang lahir di tempat pengungsian karena orang tuanya tengah berjuang dalam medan tempur.

Belanda sempat berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun 1883. Satu tahun kemudian (tahun 1884) pecah kembali perang di antara keduanya. Pada tahun 1893, Teuku Umar kemudian mencari strategi bagaimana dirinya dapat memperoleh senjata dari pihak musuh (Belanda). Akhirnya, Teuku Umar berpura-pura menjadi antek (kaki tangan) Belanda. Istrinya, Cut Nyak Dien pernah sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer. Atas keterlibatan tersebut, pada 1 Januari 1894, Teuku Umar sempat dianugerahi gelar Johan Pahlawan dan diizinkan untuk membentuk legium pasukan sendiri yang berjumlah 250 tentara dengan senjata lengkap.

Saat bergabung dengan Belanda, Teuku Umar sebenarnya pernah menundukkan pos-pos pertahanan Aceh. Peperangan tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura. Sebab, sebelumnya Teuku Umar telah memberitahukan terlebih dahulu kepada para pejuang Aceh. Sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu, pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang Pangleot sebagai tangan kanannya akhirnya dikabulkan oleh Gubernur Deykerhorf yang menggantikan Gubernur Ban Teijn.

Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar kemudian keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Dengan kekuatan yang semakin bertambah, Teuku Umar bersama 15 orang berbalik kembali membela rakyat Aceh. Siasat dan strategi perang yang amat lihai tersebut dimaksudkan untuk mengelabuhi kekuatan Belanda pada saat itu yang amat kuat dan sangat sukar ditaklukkan. Pada saat itu, perjuangan Teuku Umar mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud yang bersama 400 orang ikut menghadapi serangan Belanda. Dalam pertempuran tersebut, sebanyak 25 orang tewas dan 190 orang luka-luka di pihak Belanda.

Gubernur Deykerhorf merasa tersakiti dengan siasat yang dilakukan Teuku Umar. Van Heutsz diperintahkan agar mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar. Serangan secara mendadak ke daerah Melaboh menyebabkan Teuku Umar tertembak dan gugur dalam medan perang, yaitu di Kampung Mugo, pedalaman Meulaboh pada tanggal10 Februari 1899.

Pemikiran

Sejak kecil, Teuku Umar sebenarnya memiliki pemikiran yang kerap sulit dipahami oleh teman-temannya. Ketika beranjak dewasa pun pemikirannya juga masih sulit dipahami. Sebagaimana telah diulas di atas bahwa taktik Teuku Umar yang berpura-pura menjadi antek Belanda adalah sebagai bentuk “kerumitan” pemikiran dalam dirinya. Beragam tafsir muncul dalam memahami pemikiran Teuku Umar tentang taktik kepura-puraan tersebut. Meski demikian, yang pasti bahwa taktik dan strategi tersebut dinilai sangat jitu dalam menghadapi gempuran kolonial Belanda yang memiliki pasukan serta senjata sangat lengkap. Teuku Umar memandang bahwa “cara yang negatif” boleh-boleh saja dilakukan asalkan untuk mencapai “tujuan yang positif”. Jika dirunut pada konteks pemikiran kontemporer, pemikiran seperti itu kedengarannya lebih dekat dengan komunisme yang juga menghalalkan segala cara. Semangat perjuangan Teuku Umar dalam menghadapi kolonialisme Belanda yang pada akhirnya mendorong pemikiran semacam itu.

Karya

Karya Teuku Umar dapat berupa keberhasilan dirinya dalam menghadapi musuh. Sebagai contoh, pada tanggal 14 Juni 1886, Teuku Umar pernah menyerang kapal Hok Centon, milik Belanda. Kapal tersebut berhasil dikuasai pasukan Teuku Umar. Nahkoda kapalnya, Hans (asal Denmark) tewas dan kapal diserahkan kepada Belanda dengan meminta tebusan sebesar 25.000 ringgit. Keberanian tersebut sangat dikagumi oleh rakyat Aceh. Karya yang lain adalah berupa keberhasilan Teuku Umar ketika mendapatkan banyak senjata sebagai hasil dari pengkhianatan dirinya terhadap Belanda.

Penghargaan
Berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973, Teuku Umar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Nama Teuku Umar juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air, salah satunya yang terkenal adalah terletak di Menteng, Jakarta Pusat. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama sebuah lapangan di Meulaboh, Aceh Barat.

Sumber:

* Winarno, Sejarah Ringkas Pahlawan Nasional, (Jakarta: Erlangga, 2006).
* www.jagoan.or.id
* www.nad.go.id.
* Wikipedia.org.

Minggu, 01 Mei 2011

KEINDAHAN ITU BERNAMA EL CLASICO

Bicara tentang El Clasico selalu berbicara tentang keindahan bermain sepak bola. Lupakan dulu tentang sepak bola pragmatis yang lebih mengedepankan hasil akhir. El Clasico identik dengan para seniman bola yang bermain bola dengan skill dan intelejensi yang tinggi. Tidak ada kick and rush ala klub-klub tradisional Inggris.di sini. Jangan harap pula menyaksikan pertahanan catenaccio model tim-tim Serie A Italia. Yang ada adalah skill mumpuni berpadu dengan kecepatan serta passing akurat.

El Clasico atau yang juga dikenal dengan Derby Spanyol adalah sebuah istilah untuk menamakan pertandingan sepak bola Liga Spanyol yang mempertemukan Real Madrid dan Barcelona. Setiap tahunnya, kedua tim tersebut paling tidak bertemu dua kali dalam liga reguler di luar pertandingan Copa del Rey maupun kejuaraan Eropa. Rivalitas keduanya juga merupakan representasi dari persaingan dua kota terbesar di Spanyol dengan dua pandangan politik yang berbeda pula. Real Madrid selalu identik dengan Spanish Nationalism dan Barcelona juga senantiasa dikonotasikan dengan Catalan Nationalism.

Sejak dahulu, kota Barcelona sudah menjadi simbol kebanggaan dan identitas masyarakat Catalan yang selalu berseberangan dengan kebijaksaan sentralistik Spanyol yang selalu berpusat di kota Madrid. Pertikaian di antara kedua kota itu pernah mencapai level super panas saat Presiden Barcelona FC, Joseph Sunyol, dieksekusi oleh pemerintahan Diktaktor Francisco Franco saat yang bersangkutan melakukan kunjungan ke kota Madrid selama perang sipil berkecamuk di negara itu.

Persaingan Real Madrid dan Barcelona juga pernah diwarnai dengan transfer kontroversial yang meningkatkan tensi permusuhan di antara keduanya. Yang pertama adalah tranfer pemain berkebangsaan Jerman, Bern Schuster, dari Barcelona menuju Real Madrid pada tahun 1988. Pada tahun 1994, pemain Barcelona dari Denmark, Michael Laudrup, memutuskan untuk pindah dari Camp Nou menuju Santiago Bernabeu dengan status free transfer. Selidik punya selidik, perpindahan haram itu dipicu oleh perselisihan Laudrup dengan icon Barca waktu itu, Johan Cruyff.


Kontroversi transfer pemain yang paling panas adalah ketika Pemain Barcelona asal Portugal, Luis Figo, memutuskan untuk berganti kostum Real Madrid. Banyak pihak yang merasa terkhianati oleh keputusan Figo tersebut mengingat yang bersangkutan sudah menjadi pemain favorit publik Catalan dengan gaya permainannya yang impresif dan mampu membius banyak orang. Kemarahan suporter Barcelona begitu terasa pada saat Figo bertanding di Camp Nou dengan kostum Madrid  di tahun 2002. Bahkan salah satu kelompok suporter fanatik Barca, Boixos Nois, pernah melemparkan kepala babi ke arah Figo saat pertandingan tengah berlangsung . Figo’s transfer to Real Madrid turned him from Catalonia's most beloved person to the most hated.

Partai El Clasico legendaris pernah terjadi pada November 2005. Saat itu Barcelona berhasil menekuk Real Madrid di stadion Santiago Bernabeu dengan skor mencolok 0 - 3. Padahal waktu itu, Real Madrid dijejali oleh para pemain jempolan, macam David Beckham, Robinho, Roberto Carlos, maupun Zinedine Zidane sehingga mendapat julukuan El Galacticos. Bintang Barcelona, Ronaldinho, menjadi pemain kedua setelah Maradona yang mendapat standing ovation dari publik Madrid berkat permainannya yang memikat.

Tahun ini El Clasico dijadwalkan berlangsung sampai lima kali. Dua pertandingan berlangsung di La Liga Spanyol, satu pertandingan di babak final Copa Del Rey, dan dua kali pertandingan babak semifinal Liga Champions Eropa. Ini merupakan momen yang ditunggu-tunggu jutaan pecandu bola di seluruh penjuru dunia sebab jarang sekali terjadi El Clasico berlangsung sampai lima kali dalam setahun.

El Clasico juga mengetengahkan kisah perseteruan dua pelatih beda karakter. Jose Mourinho dan Joseph Guardiola. Jose Mourinho, pelatih Real Madrid, selalu mengklaim dirinya sebagai The Special One. Banyak bicara, sinis, enggan mengakui keunggulan orang lain, sering bermasalah dengan media, tapi hebatnya prestasi yang pernah diraih Mou ternyata semoncer habitnya yang sering berkoar-koar. Gaya kepelatihannya dikagumi oleh banyak pemain jempolan. Ia mampu membawa FC Porto sebagai kampiun Liga Champions. Saat menukangi Chelsea, ia juga mampu menaklukkan ego para pemain mahal Chelsea dan membawa tim tersebut sebagai yang terbaik di English Premiere League. Puncaknya, Mourinho mampu membawa Inter Milan meraih treble winner tahun lalu.

Bagaimana dengan Guardiola? Pemain AC Milan, Zlatan Ibrahimovic pernah menjulukinya sebagai Mahatma Gandhi oleh karena karakternya yang kalem dan gaya busananya yang bersahaja. Bagi publik Catalan, Pep Guardiola adalah sosok loyal dan berkharisma. Banyak orang mengatakan bahwa ia mewarisi tim Barcelona peninggalan pelatih hebat pendahulunya, Frank Rijkaard. Tapi sejatinya, Pep tahu betul bagaimana cara mengaplikasikan gaya permainan tiki taka dalam model permainan sehingga membuat Barcelona menjadi yang terhebat dalam beberapa tahun terakhir dni di La Liga Spanyol. Ia disegani semua pemainnya. Ia juga berani mendepak pemain-pemain hebat tapi susah diatur dari timnya macam Ronaldinho, Samuel Eto’o maupun Ibrahimovic sendiri.

El Clasico juga bicara tentang persaingan antara Lionel Messi dan Christiano Ronaldo. Kedua pemain tersebut memang berpeluang saling berduel di tengah lapangan untuk membuktikan siapa yang yang terbaik di antara mereka. Untuk sementara ini, memang Lionel Messi lebih unggul dalam rekor pertemuan head to head.

Showtime ......

EL CLASICO 1
El Clasico pertama berlangsung pada tanggal 28 November 2010 di Nou Camp, kandang Los Blaugrana, Barcelona. Pada pertandingan tersebut, Los Merengues, Real Madrid hancur lebur 5 gol tanpa balas. Entah salah siapa, yang jelas lini tengah Bercelona begitu perkasa malam itu. Striker Barcelona David Villa menjelma menjadi momok mematikan di depan gawang Iker Casillas. Oh sungguh malang benar .........
EL CLASICO 2
Seperti yang sudah-sudah, laga Real Madrid versus Barcelona dalam El Clasico jilid II di kandang Madrid, Santiago Bernabeu, berlangsung sengit. Pertaruhan gengsi dalam laga ini membuat pemain kedua kesebelasan tampil ngotot. Namun kali ini, Mourinho banyak belajar dari partai pertama dengan tidak menginstruksikan para pemainnya untuk bermain terbuka. Hal ini sangatlah mengejutkan, karena Real Madrid selalu menampilkan permainan menyerang tidak perduli siapa pun lawannya. Strategi ini terbukti berhasil dan Barcelona pun tertahan dengan skor 1 - 1 via gol Messi yang kemudian dibalas oleh Ronaldo.

Namun tak urung strategi Jose Mourinho tersebut menuai kecaman dari banyak pihak. Salah satunya datang dari legenda hidup Real Madrid di era 1950-an, Alfredo di Stefano.  Stefano mengatakan bahwa strategi yang diterapkan Mou kepada anak asuhnya seperti seekor tikus melawan Singa dari Catalan. Presiden kehormatan Madrid tersebut justru memuji penampilan Barca yang disebutnya bermain dengan memperlakukan bola dengan penuh kehormatan. Namun dasar Mourinho, ia cuek bebek. "Saya pelatih Madrid, bukan Stefano!" tukasnya.
El CLASICO III
Stadion Mestalla, kandang Valencia, menjadi saksi perhelatan El Clasico ketiga di musim ini. pada tanggal 20 April 2011. Pertandingan Barcelona melawan Real Madrid kali ini memiliki nuansa istimewa karena merupakan babak final Copa Del Rey atau Piala Raja Spanyol. Berkaca dari dua pertandingan sebelumnya, Real Madrid menerapkan strategi permainan unik 4 - 6 dengan tidak memasang satupun striker murni pada starting line up. Taktik ini berjalan efektif di sepanjang pertandingan. Rapatnya pertahanan Los Blancos mampu meredam tiki taka Barcelona sambil sesekali melakukan counter attack.


Tidak ada gol yang tercipta selama 90 menit waktu normal. Pertandingan terpaksa memasuki fase perpanjangan waktu 2 x 15 menit. Masa perpanjangan waktu rupanya menjadi turning point bagi Real Madrid. Puncaknya terjadi pada saat Angel di Maria melakukan akselerasi di sektor kanan pertahanan Blaugrana dan kemudian mengrimkan umpan silang yang berhasil diselesaikan oleh tandukan tajam Ronaldo. Gol!


Kedudukan 1 - 0 buat Real Madrid bertahan sampai peluit panjang wasit dibunyikan. Ya...Real Madrid mampu menjadi pemenang El Clasico jilid III. Kemenangan ini terasa manis karena mereka mampu menahbiskan dirinya sebagai juara Copa del Rey 2011.


EL CLASICO IV
Selang empat hari kemudian, El Clasico bertajuk semifinal 1st leg Liga Champions Eropa kembali menghentak. Pasca kemenangan pada duel final Copa del Rey, kali ini Real Madrid menatap pertandingan dengan kepercayaan diri yang tinggi. Apalagi duel super panas ini di helat di kandang Madrid. "Kami akan menghancurkan Barcelona," koar Ronaldo sehari sebelum pertandingan dilaksanakan.

Namun ternyata ...... 
Walaupun bermain di kandang sendiri, tampaknya Real Madrid tidak bisa memanfaatkan pengaruh penonton yang terus memberikan semangat kepada mereka. Mereka tetap tidak dapat mengimbangi permainan cepat yang dilakukan oleh Barcelona. Begitu bebasnya Xavi Hernandez menguasai lini tengah menjadi salah satu kunci utama Barca dapat menaklukkan Madrid malam itu.

Dua gol Barcelona yang menghujam jala gawang Madrid diborong oleh Lionel Messi pada menit 67′ dan 87′. Gol kedua membuktikan bagaimana cepatnya seorang Lionel Messi membawa bola sambil meliuk-liuk melewati pemain belakang Madrid dan langsung menceploskan bola ke gawang Casillas menggunakan kaki kanan. Dalam pertandingan ini wasit mengeluarkan dua kartu merah, satu untuk J.M. Pinto dan Pepe. Selangkah lagi, Barcelona melangkah ke babak final.

EL CLASICO V
Real Madrid harus memenangkan El Clasico edisi ini dengan margin 3 gol. Mau tidak mau tim ini harus keluar dari gaya pragmatis yang terus diterapkan dalam empat El Clasico sebelumnya dan berani tampil lebih agresif apapun resikonya. Namun ternyata, gawang Madridlah yang harus bobol lebih dulu via gol Pedro meskipun dibalas oleh gol yang dicetak Marcello. Kedudukan imbang 1 - 1 tetap bertahan sampai akhir dan berhasil meloloskan Barcelona ke partai final Liga Champions melawan Manchester United yang akan dilangsungkan pada 28 Mei nanti di Wembley Stadium. Partai ini merupakan pertandingan ulangan final Liga Champions tahun 2009. Saat itu, Barcelona berhasil mengandaskan ambisi Manchester United lewat gol Samuel Eto'o dan Lionel Messi.

Lima partai El Clasico tahun ini telah berakhir. Keindahan permainan sepakbola modern yang berpadu dengan berbagai intrik dan drama bak sinetron telah kita nikmati bersama. Apapun itu, untuk sementara hegemoni Barcelona atas Madrid masih terus berlangsung.  Tak terbantahkan, Jose Mourinho selalu menang kemana pun ia pergi, dan ia memenangkannya dengan cepat. Juara liga pada musim pertamanya di Porto, di Chelsea, dan Inter Milan. Rekor itu dihentikan oleh Barcelona. Ia tidak berhasil melakukannya untuk Real Madrid. Itulah makna terpenting dari lima sekuel terakhir El Clasico.




Sabtu, 23 April 2011

Di Bawah Bayang-Bayang Maut


“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Namun karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamudari dunia sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu.”
Yohanes 15: 18 – 20


Figur yang pertama mati bagi gereja adalah Yesus sendiri. Peristiwa penyaliban-Nya yang telah menjadi inspirasi dan sumber bagi semua kemartiran, terekam dengan begitu jelas di dalam Alkitab. Kita bersyukur bahwa Ia bukanlah Allah yang tinggal dalam kematian tetapi kebangkitan-Nya, yang bagi sebagian orang merupakan kontroversi tiada akhir, telah memberikan keberanian bagi murid-murid-Nya untuk terus mengabarkan injil sampai ke ujung bumi.

Orang kedua yang menderita dan mati bagi gereja adalah Stefanus. Stefanus, yang namanya berarti “mahkota”, menjadi martir karena memberitakan injil kepada orang-orang yang telah membunuh Yesus. Alkitab mencatat bahwa orang saleh ini terbunuh di luar tembok kota dengan cara dirajam. Peristiwa tersebut terjadi 8 tahun setelah penyaliban Yesus. Itu berarti kematiannya terjadi pada tahun 35 M karena sesungguhnya Yesus dianggap lahir pada tahun 6 S.M.

Pasca pembunuhan terhadap Stefanus, Lukas mencatat, “Pada waktu itu mulailah penganiayaan terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.” (Kisah Para Rasul 8 : 1)

Inilah kisah martir dari murid-murid pemberani dari Tuhan Yesus.

Yakobus
Yakobus adalah anak Zebedeus dan Salome merupakan ayak rasul Yohanes. Ia adalah yang pertama menjadi martir dari antara 12 rasul (Kisah Para Rasul 12 : 2) melalui hukuman mati sekitar tahun 44 M atas perintah Herodes Agrippa I dari Yudea. Penulis terkenal, Clemens Alexandrinus, menulis bahwa ketika Yakobus dibawa untuk dieksekusi, keberaniannya yang luar biasa itu menimbulkan kesan yang mendalam pada salah satu orang yang menangkapnya. Orang itu jatuh bertelut di hadapan Yakobus seraya memohon ampun dan mengaku bahwa ia sebenarnya adalah seorang Kristen juga. Akhirnya mereka berdua dipenggal kepalanya.

Matius
Matius mengabarkan injil sampai ke tanah Ethiopia. Beberapa tulisan mengatakan bahwa ia direbahkan di tanah dan dipancung kepalanya di kota Nadabah (atau Naddayar), Ethiopia, sekitar tahun 60 M.

Yakobus (Kecil)
Yakobus ini adalah saudara Yesus dan penulis surat Yakobus di dalam Alkitab. Ia sepertinya menjadi pemimpin jemaat di Yerusalem. Menurut Flavius Josephus, ahli sejarah Yahudi, imam besar Ananus memerintahkan agar Yakobus dihukum mati dengan cara dirajam. Namun Hegessipus, penulis Kristen awal, mengutip ahli sejarah abad ke-3 Eusebius, bahwa Yakobus dilemparkan dari menara Bait Allah. Ia tidak langsung mati setelah dijatuhkan, jadi kepalanya dipukul lagi dengan pentungan besi.

Matias
Dipilih untuk menggantikan posisi Yudas Iskariot. Ia dirajam batu di Yerusalem dan kemudian mati dipancung.

Andreas
Andreas adalah saudara Petrus. Ia mengabarkan injil kepada banyak bangsa Asia dan menjadi martir di Odessa dengan disalibkan pada kayu salib berbentuk huruf X.

Markus
Markus mati dengan cara diseret sampai tubuhnya terkoyak-koyak oleh orang-orang Alexandria ketika ia berbicara menentang perayaan yang khidmat untuk berhala bernama Serapis.

Petrus
Kisah kemartiran Petrus berasal dari laporan Hegesipus. Ketika Petrus sudah tua, Kaisar Nero berencana untuk menjatuhinya hukuman mati. Ketika murid-murid Petrus mendengar kabar itu, mereka memohon agar Petrus meninggalkan kota Roma. Namun, ketika Petrus sampai di pintu gerbang kota, ia melihat Yesus berjalan ke arahnya. Petrus menjatuhkan diri bertelut sambil berkata, “Tuhan, Engkau mau pergi ke mana?” Yesus menjawab, “ Aku datang untuk disalibkan lagi, karena gembala umatku melarikan diri.” Melalui penglihatan itu, Petrus tahu bahwa sudah waktunya bagi dia untuk mati sambil mempermuliakan Allah. Ia kembali masuk ke dalam kota dan langsung ditangkap. Menurut St. Jerome, Petrus meminta agar disalibkan dengan posisi terbalik karena ia merasa tidak layak untuk disalibkan dengan posisi yang sama dengan Tuhannya.

Paulus

Rasul ini sering dianggap memutarbalikkan ajaran Kristus dengan cara memasukkan pengajaran palsu yang dipakai oleh orang-orang Kristen hingga saat ini. Apabila ia seseorang yang sengaja disusupkan untuk menyesatkan orang percaya, sudikah ia mati bagi imannya? Saya rasa tidak. Sejarah mencatat bahwa Paulus tetap setia sampai akhir dan dihukum penggal atas perintah Kaisar Nero pada tahun 66 M.

Yudas
Ia adalah saudara Yakobus. Ia disalibkan di Edessa, kota kuno di wilayah Mesopotamia. Sekitar tahun 72 M.

Bartolomeus
Ia berkhotbah sampai ke wilayah India Timur. Orang-orang setempat memukuli dan menyalibkannya sampai mati.

Tomas
Tomas memberitakan injil sampai ke Persia, Parthia, dan India. Di Calamina, India, ia mengalami penyiksaan. Tubuhnya ditusuk tombak dan dilemparkan ke dalam oven raksasa yang menyala-nyala.

Lukas
Lukas seorang non-Yahudi, mungkin orang Yunani. Ia seorang tabib di Troas dan mungkin bertobat di sana melalui penginjilan Paulus. Setelah kematian Paulus, Lukas tampaknya meneruskan pemberitaan Injil. Salah satu sumber kuno menyatakan, “Ia melayani Tuhan tanpa gangguan karena ia tidak memiliki istri ataupun anak dan pada saat ia berusia 84 ia jatuh tertidur di Boeatia”. Sumber yang lain mengatakan bahwa ia pergi ke Yunani dan menjadi martir dengan digantung pada pohon zaitun di Athena pada tahun 93 M.

Yohanes
Rasul Yohanes ditangkap dan dibawa ke Roma tempat ia dilemparkan dalam tempat penggorengan yang diisi minyak yang mendidih, tetapi tidak melukainya. Akibatnya kemudian dibuang oleh Kaisar Domitian ke Pulau Patmos, tempat ia menulis kitab Wahyu. Ia satu-satunya rasul yang tidak mengalami kematian yang mengerikan.

Bayang-bayang maut selalu mengancam gereja Tuhan yang benar dari zaman ke zaman. Namun gereja semakin dibabat selalu semakin merambat. Berakar kuat melalui pengajaran Tuhan kita Yesus Kristus. KematianNya di atas kayu salib hampir 2000 tahun yang lalu menjadi sebuah pertanda bahwa maut sebenarnya sudah dikalahkan. Sebagai orang percaya, kita tidak perlu takut lagi terhadap semua ancaman yang membayang. Kita tidak takut terhadap teror bom, tidak takut dengan aksi kaum fundamentalis, atau seringai setan tak berbentuk sekalipun. Dan kalau tokh kita harus menderita karena iman percaya kita, bukankah hal tersebut merupakan suatu kehormatan yang tidak terkira karena dapat bersekutu dalam penderitaan bersama-sama dengan Dia?

Selamat Paskah….